Perjalanan Meraih Beasiswa LPDP Part #2

Kata orang jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Saat itulah, 2 tahun lalu saya berkomitmen untuk mencoba setiap kesempatan. Setelah 1.5 tahun bekerja, terlintas pemikiran untuk mengambil master degree. Mumpung otak masih bisa diajak untuk berfikir keras, tidak ada salahnya mencoba peruntungan untuk melanjutkan studi. Karena saya yakin betul, kalau bekerja, ritme nya akan selalu seperti itu bahkan sampai berpuluh puluh tahun ke depan. Suatu bentuk kepesimisan dalam hidup. Oleh karena itu saya memutuskan untuk nekat melamar beasiswa terlebih dahulu daripada meyakinkan suatu universitas untuk menerima saya sebagai mahasiswa.

Dua tahun lalu, ketika saya berkarir sebagai Software Engineer, saya melakukan kesalahan dalam memilih jurusan yang akan saya lanjutkan untuk S2. Waktu itu saya mencantumkan Jurusan MSc Advanced Control Engineering di University of Manchester sebagai kampus yang saya daftarkan di form aplikasi LPDP saya. Tentu saja, ini tidak nyambung dengan pekerjaan yang saya lakukan. Kala itu saya juga menjadikan dosen Teknik Elektro di bidang kendali sebagai cita masa depan saya. Dan hasilnya? Sudah bisa ditebak endingnya, seperti drama Korea.

Disini saya menyadari, bahwa saya tidak mampu meyakinkan pewawancara karena saya sendiri tidak yakin dan tidak sepenuh hati memilih jurusan dan cita masa depan saya. Terlebih lagi, mendaftar universitasnya pun saya belum. Suatu penolakan yang pantas diterima tanpa dendam.

Perjalanan hidup selalu membawa kita ke dalam hal yang tak pernah kita duga. Setelah mendapatkan pekerjaan baru, saya mendapatkan kesempatan probation di kota gudeg selama 3 bulan. Saya tidak pernah sekolah di sana. Tidak pula punya saudara di sana. Karyawan di sana juga tidak banyak yang bisa diajak untuk membuang-buang waktu layaknya di Jakarta. Akhirnya, keadaaan menuntun saya menuju jalan yang lurus. Kurangnya waktu senggang untuk di sia-siakan membuat saya mencari-cari ide apakah yang harus saya lakukan jika tidak ada kegiatan di malam hari atau di waktu libur. Yes, saya belajar IELTS otodidak. Inipun sebenarnya belajar karena udah daftar dulu. Biar lebih termotivasi karena sudah ngabisin uang 2.8 juta.

Setelah lulus probation dan balik ke Jakarta, di bulan September 2016, satu hari sebelum ulang tahun saya yang ke 2x, saya melaksanakan test IELTS di IALF kuningan. Kemudian menerima raport IELTS 2 minggu berselang. Cukup. Hasilnya cukup pas-pas an untuk mendaftarkan diri di universitas luar negeri kategori non-management. Bulan Oktober menerima IELTS, kemudian mendaftarkan diri di kampus-kampus Australia. Apakah saya ingin kuliah di Australia? Tidak. Bahkan tidak pernah terlintas sama sekali. Kuliah di Kairo lebih masuk dalam bayangan saya ketimbang di Ausie. Kenapa saya apply Ausie?Alasannya simple, karena saya ingin mengetes kelayakan saya secara international, dan sistem International Admission di Australia sangat gampang. Cukup upload transkrip, ijazah, dan IELTS. Tidak perlu personal statement maupun surat rekomendasi. Bahkan jika memakai agen, ada beberapa universitas yang tidak harus membayar application fee. Oktober 2016 saya menerima 3 buah LoA dari top kampus di Australia.

Kata orang, gak mungkin jalan itu lurus terus, suatu saat pasti ada belokannya. Bad news nya, LPDP dikabarkan di freeze dan baru akan buka tahun depan, Juli 2017 untuk kuliah 2018, di saat saya sudah punya LoA dan IELTS yang cukup di 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s