Perjalanan Meraih Beasiswa LPDP Part #3

Setahun yang lalu cukup harap harap cemas menanti pengumuman kapan beasiswa LPDP akan dibuka. Bulan Februari 2017, diumumkan bahwa LPDP hanya akan dibuka 2 kali yaitu untuk 1 kali untuk Dalam Negeri(DN) dan 1 kali untuk Luar Negeri(LN), berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu 4 periode. Selain itu, persyaratan dan tahapan tes seleksi beasiswa LPDP lebih diperketat. Misalnya, untuk kampus tujuan luar negeri wajib melampirkan IELTS, semua essay yang disubmit untuk bagian dari seleksi administrasi harus dengan bahasa inggris. Selain itu ada tambahan tahapan seleksi yaitu Online Assessment, konon banyak peserta berguguran di tahapan ini.

  1. Seleksi Administrasi
    Pada tahapan ini, seperti namanya kita cukup melengkapi dokumen yang dibutuhkan. Transkrip, Ijazah, Rencana Studi, Sertifikat kemampuan bahasa Inggris yang diakui LPDP, Surat Ijin belajar (jika sedang berstatus pekerja), Surat Rekomendasi, LoA, KTP, dan Surat keterangan berbadan sehat, bebas narkoba dan TBC (khusus pelamar beasiswa tujuan LN). Untuk surat keterangan sehat ini cukup menyita kantong, yaitu sekitar 500.000 jika di RS Fatmawati. Selain itu, kita juga harus melampirkan essay essay dalam bahasa inggris.
  2. Online Assessment (VMI and 15FQ+)
    Sebenernya Online Assessment sudah terlebih dahulu dialami oleh kandidat beasiswa LPDP DN, hanya saja, saya kala itu cukup yakin bahwa saya bisa menghadapinya tanpa perlu bertanya-tanya kepada peserta DN. Saya cukup tinggi hati sampai enggan bertanya. Waktu itu Online Assessment sudah dijadwalkan bertepatan dengan jadwal saya sedang dalam trip ke Malang. Hanya saja, lagi-lagi, setelah ada jalan belokan pasti kembali lagi ke jalan lurus. Jadwal Online Assessment diundur 1 minggu. Saya cukup senang, meskipun masih no clue tentang bagaimana menjawab dengan benar nantinya. Saya mengerjakan Online Assessment yang terdiri dari 200 soal ini pada jam istirahat makan siang.  Disana dijelaskan bahwa tidak ada jawaban salah dan benar. Saya percaya itu, oleh karenanya sama sekali merasa tidak terbebani untuk menjawab 200 soal ini. Tapi tentu saja, namanya seleksi pasti sistem gugur. Para pelamar yang tidak lulus bukan berarti mereka tidak pintar ataupun kepribadian mereka tidak bagus. Hanya saja, boleh dikatakan belum fit dengan kriteria LPDP. Memang tidak ada jawaban benar dan salah, akan tetapi bisa seharusnya tes ini cukup bisa menentukan kepribadian dan cara berfikir seseorang.
  3. Tes Substansi
    Tes Substansi sendiri sebenarnya terdiri atas 3 rangkaian tes. Essay on the Spot, LGD, dan Wawancara. Karena pernah mengikuti tes LPDP tahun sebelumnya, saya mulai rajin-rajin membaca tentang berita terkini dari Jakarta Post biar memperluas vocab juga. Sayangnya, tema yang saya dapatkan ketika EOTS adalah tentang pemimpin ideal. Apa perbedaan pemimpin dan kepemimpinan dan bagaimana sosok pemimpin ideal. Ini sangat berbeda sekali dengan kisi-kisi yang saya dapatkan dari hasil berselancar di dunia maya. Begitulah, layaknya bumi itu bulat , penuh tanjakan bukan flat. Saya sangat tidak yakin tentang apa yang harus saya tulis. Mungkin boleh dibilang tulisan essay saya cukup ngambang, penuh 1 lembar bolak-balik tapi tidak ada paragraf utama, tidak ada intinya. Saya rasa begitu. Step ke 2 yaitu LGD. Ini cukup menarik dan saya cukup terbantu dengan background saya sebagai anak Elektro. Tema yang diangkat adalah tentang mobil listrik. Saya cukup paham tentang ini dan bisa berpendapat meskipun dengan bahasa inggris yang cukup berantakan. LGD tidaklah sesulit EOTS karena saya cukup hoki dengan tema yang di angkat. Keesokan harinya adalah wawancara, tahapan yang paling penting yang katanya 70% penentuan kelulusan ditentukan oleh tahapan ini.  Saya seharusnya mendapatkan jadwal untuk pukul 13.00, entah kenapa dan takdir juga, jadwal wawancara saya jadi maju menjadi jam 11.00. Untung saya sudah sampai lokasi ketika nama dipanggil. Interview saya tidak full english. Saya cuman disuruh memperkenalkan diri dalam bahasa inggris. Sisanya ditanya dalam bahasa indonesia. Mungkin disinilah keberuntungan cukup berpihak kepada saya. Saya lebih leluasa menceritakan pengalaman hidup saya, pekerjaan saya, rencana studi saya, dan cita-cita masa depan saya. Tidak ada sama sekali pertanyaan offensive apalagi rasis. Tips interview LPDP yaitu persiapakan jawaban untuk “kamu siapa, mau ngapain, dan kenapa kamu pantas menerima beasiswa”. Intinya cuma 3 hal itu saja. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu bisa menjawab ketiga hal itu dengan sejujur-jujurnya, saya yakin tiada celah untukmu gagal dalam seleksi beasiswa LPDP.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s