Kenapa S2?

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk memberikan motivasi agar orang-orang melanjutkan S2, akan tetapi sebagai pengingat diri jika seandainya lost on track atau kehilangan semangat di saat sulit-sulitnya meniti ilmu. Jelas, tulisan ini bukanlah yang terlampir di motivation letter ketika apply sekolah maupun beasiswa karena sama sekali tidak akan menceritakan alasan kenapa memilih jurusan tersebut dan cita-cita masa depan setelah lulus S2. Karena sebenernya saya jg ga yakin-yakin amat korelasi antara jurusan dan cita-cita.

Kenapa saya ga melanjutkan S2 sehabis lulus S1?karena ingat pesan dari mendiang seorang dosen besar di Elektro ITB. Katanya gini, kalo mau jadi akademisi/researcher mending langsung S2, tapi kalo mau di bidang praktisi, sebaiknya mencicipi dahulu dunia kerja sebelum langsung S2, karena 4 tahun berkuliah S1 bukanlah bekal yang cukup untuk kita bisa menarik kesimpulan minat kita itu di mana. Boleh jadi sarjana Teknik Elektro yang membenci Alstrukdat dan kawan-kawan malah sehari-hari mengais rejeki dengan codingan pasca lulus. Dan saya tau bahwa gue bukan seorang akademisi/researcher.

Alasan no 0 saya S2 adalah mau foto pake toga sama orang tua di kampus. Dulu sebenarnya sempat foto pake Toga cuman karena ga diambil-ambil karena keburu jadi buruh di Batam, album foto toganya dibuang LFM. Tiap kali pulang ke rumah sih sedih, satu-satunya yang ga ada foto wisudanya ya saya doank.

Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa bahwa kualitas lulusan S2 ga lebih baik daripada lulusan S1. Pendapat ini sebenarnya ga salah sih, bahkan lebih banyak benarnya karena di Indonesia sendiripun, lapangan pekerjaan untuk S2 belum terwadahi dengan baik. Jika kita pandang dari perspective yang berbeda, sebenarnya bukan karena lulusan S2 ga lebih baik dibandingkan S1, tetapi kenyataan dunia kerja di negara kita ini belum mampu menampung skill si S2. Tapi, kita tidak akan tahu 10-20 tahun yang akan datang. Pernah kan noleh ke belakang, kalau dulu orang-orang dengan ijazah SMA/SMK aja udah bisa jadi engineer atau pengajar. Kemudian tiba-tiba syarat minimum pendidikan untuk banyak lapangan pekerjaan dinaikkan oleh pemerintah menjadi S1, tentunya orang yang sebelumnya sudah S1 agak diuntungkan, setidaknya dari segi adminstratif awal mereka udah qualified. Bagaimana dengan Indonesia yang saat ini tengah berlomba dengan kedua negara tetangga untuk menaikkan jumlah lulusan master? Pemerintah saat ini memang mendukung dengan menyediakan beasiswa dan tentu saja cara paling cepat kemungkinan akan adanya pecutan agar lulusan master menjadi semakin besar jumlahnya dengan menaikkan standar penerimaan pekerja. Jadi, kenapa kita ndak S2 aja toh mumpung pemerintah Indonesia lagi gembor-gembor dalam memberikan beasiswa buat anak-anaknya.

Selain itu, menurut saya, di dunia kerja sebenarnya tantangannya ga banyak. Jikalau pun sulit, kita biasanya hanya akan berhadapan dengan satu hal itu terus menerus. Beda banget dengan perkuliahan kita ga cuman harus mampu 1 hal, tapi banyak hal. Jadi boleh dikatakan peningkatan ilmu baru yang didapatkan di dunia kerja nggak se significant jika kita berkuliah. Pernah kan ngerasa bosan mengerjakan pekerjaan di kantor dan rasanya semua tasknya achieveable? Misalnya, kalo stuck ya tinggal stackoverflow. Menurut saya kalo di dunia kerja skill googling dan implement yang biasanya bakal sangat terlatih.

Pernahkah kamu datang ke kantor dan bekerja kemudian merenungi, kira-kira saya sampe umur 55 (30 tahun dari sekarang) akan menjalani kehidupan pekerjaan seperti ini. Datang, bekerja, pulang. Menurut gw ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita elakkan kalo hendak bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Jadi, lo masih punya 30 tahun akan melakukan rutinitas ini lagi, kenapa nggak sekolah dulu mewarnai 2 tahun hidup lo, kemudian lanjut lagi bekerja, agar ndak menyesal nantinya. Gw yakin dengan bersekolah lagi, cara pandang kita terhadap sesuatu akan berbeda.

Rasa penasaran! Saya selalu penasaran bagaimana sih rasanya pusing ga ngerti di kelas karena terhalang bahasa atau kuliah yang sangat berat yang lo udah belajar 20 jam sehari masih kagak ngerti-ngerti?Apakah emang segitunya kah? Sebenarnya saya ingin menchallenge kemampuan learning skill dan adaptasi saya. Toh hidup cuman sekali, selalu berada di zona nyaman, kau takkan punya banyak cerita untuk dikenang di hari tua.

Kemampuan bahasa Inggris. Sekolah di luar negeri dengan teaching class berbahasa Inggris pasti akan meningkatkan kemampuan bahasa Inggrismu. Selama ini kita sulit sekali mempraktikkan speaking dan writing apabila bekerja di perusahaan local yang percakapan serta dokumentasi technicalnya pun berbahasa Indonesia. Liat aja, kebanyakan IELTS score untuk Writing dan Speaking anak Indonesia itu lebih rendah dibanding dua score section lainnya. Menurut saya, practice makes perfect, but environment still contributes. Jaman sekarang kalo bahasa Inggris lo ga bagus bagus amat tuh sulit. Bahkan semakin hits suatu post instagram bergantung captionnya. Saya sering banget nemuin orang bingung transletin/cari caption dalam bahasa Inggris yang pas. Apakah dengan lancar bahasa Inggris menaikkan value kita sebagai manusia? Of course dude, kemampuan bahasa Inggris akan mempermudah semua hal dari segi urusan bisnis hingga urusan caption socmed. Cara tercepat untuk melatih active English ya tinggal di lingkungan yang lo ga bisa hidup kalo ga ngomong bahasa Inggris.

Habis S2 ntar susah dapat kerja donk karena umur dah tambah tua? saingan dengan yang muda? Lapangan kerja buat S2 juga ga banyak buka buat Indo?Hal itu mungkin keresahan semua orang, tetapi percayalah rejeki tidak akan pernah tertukar. Toh dengan berkuliah lagi kamu bisa saja jadi akademisi atau researcher karena syarat pendidikan jadi terpenuhi. Atau, kamu bisa saja membuka lapangan kerja dari pengalaman yang kamu dapatkan di luar negeri.

Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Pernah dengar hadits ini? jadi belajar ilmu di negara lain itupun perlu. Ga cuman ilmu di kelas yang akan kita dapatkan, tetapi ilmu hidup juga. Lingkungan yang berbeda menghasilkan kualitas masyarakat yang berbeda. Kenapa kita menjadi bangsa tertinggal, karena bisa saja kita kurang belajar, cara belajar yang salah, cara fikir yang masih salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s