Bonjour Paris

Tidak pernah menyangka akan ada kesempatan untuk bisa mengunjungi negara ini. Impian itu pernah ada dan seakan menjadi nyata 4 tahun lalu ketika saya memutuskan bekerja di sebuah perusahaan Perancis, Schneider Electric. Tapi kesempatan tak kunjung datang hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan berhijrah ke Ibukota.

Sebagai bagian dari EIT Digital, saya bersama 400 mahasiswa EIT Digital lainnya yang tersebar dalam 8 universitas lainnya mendapatkan kesempatan untuk diundang di acara EITKickOff 2018. Acara tersebut bertempat di Paris dengan segala akomodasi ditanggung oleh universitas.

Sesampai kami di Bandara, kami dihadapkan pada realita bahwa metro di Paris sangat tidak difable friendly. Untuk berpindah jalur, kita harus menaiki tangga. Selain itu perpindahan antara satu jalur dengan lainnya begitu membingungkan seperti memasuki labirin. Bayangkan bagaimana rumitnya membawa-bawa koper dengan menaiki tangga-tangga yang begitu banyak jumlahnya. Di koridor metro sendiri banyak dijumpai peminta-minta, yang wanitanya kebanyakan berkerudung. Mereka berpose bersujud. Saya tidak bisa membayangkan melakukan hal tersebut dalam waktu lama. Selain itu, di metro (baik itu metro ke bandara atau dalam kota), selalu ditemui pengamen. Ada pengamen yang membawa gitar yang akan menampikkan muka masam jika kita tidak memberikan recehan euro kita kepada mereka. Ada juga jenis pengamen yang membawa speaker dan mic persis ala pedangdut jalanan yang sering kita jumpai di Jakarta. Oh iya, katanya Paris terkenal dengan pencopet yang begitu banyak yang membuat kita harus extra hati-hati, bahkan dalam metro. Teman sayapun kehilangan hpnya pada hari ke-2 di Paris. Satu lagi yang menarik adalah, metro ini berbau pesing, seakan ada orang yang pipis. Tak satupun metro yang saya naiki tak berbau ini. Juga banyak dijumpai para tunawisma yang tidur di koridor metro. Saat itu saya langsung merindukan Stockholm. Stockholm begitu sempurna untuk urusan transportasi untuk semua orang. Pernah 1 minggu pertama di Stockholm saya mengasumsikan bahwa banyak sekali orang difable di Stockholm dibandingkan di Jakarta, apakah ada kaitannya dengan udara atau gaya hidup mereka? Sampai akhirnya saya paham bahwa orang-orang difable ini bisa mandiri dan bisa berkeliaran kemanapun di kota ini karena memang infrastruktur yang sangat mendukung mereka. Mungkin di Jakarta jumlahnya jauh lebih banyak tapi mereka tidak bisa kemana-mana, bahkan untuk orang yang terbilang sehatpun, jalanan di jakarta sangat mengerikan.

Acara KickOff bukanlah acara duduk mendengarkan seminar, tetapi selama 3 hari kami membuat business idea yang benar-benar baru dan mempresentasikannya seolah presentasi di depan investor. Hari pertama dimulai dengan administrasi, penjelasan tentang EIT Digital dan business challenge pitch yang akan kita presentasikan pada hari ke-3. Acara ini memberikan kita kesempatan untuk menjalin networking dengan mahasiswa lain dari berbagai universitas yang berasal dari berbagai negara. Hari pertama berakhir pada pukul 10 pm dan beruntungnya, kita dipulangkan dengan bus yang dipersiapkan panitia.

Hari ke-2, saya dan 3 orang teman lainnya menjungi Norte Dame di jam makan siang karena tidak mau melewatkan kesempatan untuk berkeliling Paris. Malamnya kami diundang untuk mengikuti acara cocktail party. Itu adalah pertama kali dalam hidup saya untuk ke Cocktail Party. Tidak memiliki pakaian yang proper untuk acara party sebenarnya menyurutkan keinginan saya untuk menghadirinya. Akan tetapi karena berencana untuk mengunjungi Eiffel yang berjarak 2km an dari acara, saya akhirnya ikut juga. Itu momen pertama saya ke acara dimana hampir semua orang minum (ampunkan hamba) dan tentunya saya tidak melakukannya. Meskipun mengenal banyak orang di acara semacam ini, pada akhirnya kesimpulan akhir saya adalah jangan mendatangi tempat sumber maksiat karena tidak menguntungkanmu. Setelah 2 jam di acara, saya akhirnya memutuskan kabur dan pergi mengunjungi Eiffel Tower. Eiffel di malam hari sangat indah. Tetapi tidak terlalu besar. Pro tips: Settinglah kameramu jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan gambar yang lebih layak.

Hari ke 3 adalah hari presentasi business idea pada pukup 8.45 am. Dimana pada malam hari kemaren teman-teman tim saya sepertinya mabuk dan party sampai jam 2. Kami semua harus hadir tepat waktu untuk mendapatkan poin tambahan. Pagi itu saya berusaha untuk bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi. Hanya saja tiket metro yang diberikan oleh pihak kampus sudah habis. Saya harus membeli di mesin tiket harian, malangnya kartu debit BNI saya direject (padahal di Swedia bisa). Saya tidak memiliki euro 1 sen pun, sedangkan teman saya sudah duluan masuk dan menunggu saya di dalam metro. Panik, karena 30 menit saya harus sudah sampai di kampus, tidak ada yang bisa saya lakukan sampai akhirnya saya melihat anak EIT lainnya (memakai jaket yang sama) yang kebetulan juga anak KTH sedang antri membeli tiket. Sampai akhirnya saya mengemis 1.9 euro dari dia. Sampai tiba-tiba akhirnya ada mahasiswa dari cina yang tiba-tiba menyelak antrian dan memohonkan saya ikut membelikan tiket buatnya, tetapi dia hanya memiliki 1 euro. Jadi akhirnya total uang kami kurang 50 sen. Saya tidak bisa melanjutkan pembelian sampai akhirnya seseorang wanita paruh bayar datang dan memberikan saya 50 sen cuma-cuma. Ada saja orang baik yang muncul di saat terdesak. Karena panik, saya buru-buru lari ke arah pintu masuk. Sampai akhirnya saya sadar koper saya tertingggal di mesin tiket. Saya tidak bisa keluar, jika keluar saya harus membeli lagi sementara tidak punya uang sama sekali. Beruntunglah teman yang memberikan euronya tersebut belum masuk, sehingga dia dengan berbaik hati mengambil koper saya. Saya tiba di kampus tepat pukul 08.45. Saya tidak mau telat karena akan mengurangi point tim kami. Sayangnya, ke 6 temen kelompok saya sepertinya party sampai pagi dan mereka terlambat. Kami gagal mendapatkan point tambahan. Pro tips: Membawa cash itu penting.

Setiap kelas dibagi atas 6 kelompok presentasi. Presentasi dilakukan oleh perwakilan kelompok. Kami merasa bahwa presentasi ide bisnis kami adalah yang paling menarik, sayangnya, juri memilih tidak berdasarkan konten bisnis, tetapi berdasarkan vote penonton di kelas dan point kehadiran. Sangat tidak fair memang, tapi apa mau dikata. Selanjutnya setiap pemenang di kelas maju ke presentasi final. Menurut saya yang paling penting dalam pitch presentasi adalah bagaimana melakukannya semenarik mungkin. Pemenang business challenge kali ini memiliki ide bisnis yang cukup unik seperti tinder match tetapi untuk persoalan waste building materia dengan pendekatan machine learning. Hal ini karena ada isu terkait sustainable sehingga material tidak akan terbuang sia-sia dan menjadi limbah. Semua anggota kelompok pemenang dari lomba ini diberikan hadiah berupa segelas sampagne yang diminum di depan semua orang. Di sinilah dalam hati saya berfikir ada untungnya tim saya tidak menang. Kesimpulan: Business idea yang berdampak sosial dan dikemas dengan teknologi yang cukup gila menjadi sangat menarik.

Setelah selesai acara pada pukul 1pm, kami ber 5 (swedesh, 2 indonesian, 1 us, 1 indian) memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di paris, seperti arc de triomphe dan louvre pyramid. Kita berjalan kaki hampir 3.5 jam dengan menggeret koper karena cuaca Paris begitu bagus (13 derjat) dan jauh berasa lebih hangat karena terbiasa dengan suhu 5 derjat di Nordic country. Paris memang sangat indah dan begitu worth it untuk dikunjungi dengan pasangan nanti.

Meskipun pada hari-hari pertama saya merasa Paris sangat jauh dari ekspektasi saya(kumuh, banyak pencopet, bangunan tua tidak terawat), pada akhirnya saya setuju bahwa Paris memang layak untuk menjadi kota tujuan wisata tetapi tidak untuk tempat untuk hidup. Satu hal selama di Paris yang saya rasakan, saya begitu merindukan nasi. karena kami hanya diberikan roti, roti dan roti dari sarapan sampai dinner.

IMG_9590IMG_9716IMG_9751

IMG_9627

Sepanjang perjalanan saya merekam banyak video, dan berharap ada waktu untuk mengeditnya agar orang-orang tahu bahwa bagaimana Paris yang sebenarnya.

Pulang ke Stockholm, salju-pun menyambut dan perubahan jam. Sekarang, antara Indonesia dan Swedia ada 6 jam perbedaan waktu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s