Financial Freedom Beginner

Sebenarnya sudah lama sejak ingin menuliskan hal ini. Berhubung kemaren baru saja ada teman lama yang tiba-tiba curhat keinginannya untuk mencari uang saja karena merasa belum mencapai yang namanya financial freedom. Akhirnya saya menemukan judul yang tepat untuk tulisan ini.

Saya mulai bekerja pada akhir Agustus 2014. Biasanya saya menyisihkan 50%  penghasilan saya untuk ditabung karena waktu itu saya sangat skeptis dengan yang namanya saham dan deposito. Skeptis karena ketidakpercayaan bahwa saham dan deposito syariah benar-benar dikelola dengan konsep islamiah. Selain itu deposito yang berjangka juga makin menyurutkan niat saya kalau-kalau suatu saat saya butuh dana emergency.

Meletakkan uang di tabungan yang bisa ditarik kapan saja adalah salah satu hal yang paling bodoh yang saya lakukan, terbukti target tabungan akhir tahun saya tidak pernah tercapai selama rentang 2.5 tahun. Memang ada saja godaan, apalagi sebagai first time jobber yang selalu berfikir “udah capek-capek kerja, harusnya dinikmati saja uangnya”.

Hingga akhirnya pada awal tahun 2016 saya ditampar dengan kenyataan bahwa perusahaan tempat saya bekerja sedang memasuki masa-masa kritis. Namanya juga start up :). Di situasi tersebut, saya tidak hanya memikirkan mencari pekerjaan baru, tetapi saya mulai berfikir tentang bagaimana caranya saya tidak usah khawatir dengan uang meskipun tidak memiliki pekerjaan alias menganggur.

Setelah berhenti dari perusahaan lama, tak berselang 1 minggu kemudian, pada awal Mei 2016 saya kembali bekerja di startup (ga kapok) karena saya merasa sudah menemukan jalan lain untuk mengatasi ketergantungan pada uang. Yaitu: passive income! Saya sadar bahwa satu-satunya cara untuk menjamin uang kamu berkembang adalah dengan menginvestasikannya. Saya mulai mengalihkan tabungan saya ke bentuk deposito syariah dan reksadana syariah. Setelah belajar cukup lama, akhirnya saya yakin bahwa konsep syariah yang dilaksanakan untuk bisnis ini memang sudah dijamin. Apa salahnya menanamkan investasi ke bisnis yang dikelola dengan prinsip syariah. Meski, pada prakteknya di lapangan saya tidak pernah tau 😀

Selama 2.5 tahun bekerja, saya menabung di bank mandiri tabungan (yang buat menerima beasiswa) karena memang tidak ada biaya admin dan bunganya tinggi. Trus saya geli sendiri kok dulu saya sangat skeptis dengan deposito atau investasi, padahal nyatanya saya nabung di bank konvensional selama ini yang bunganya jelas-jelas riba.

Hingga akhirnya saya mulai mempelajari deposito, reksadana, dkk, investasi yang cocok untuk pemula. Untuk yang mau aman.

Jika bunga tabungan 1-2% per tahun dipotong biaya admin, deposito juga tidak terlalu bagus, paling maksimal 6% dan itu dipotong pajak 20%, hingga total bunga deposito 1 tahun penu sekitar 4.8% saja. Selain itu, deposito juga berjangka, 1, 3, 6, atau 12 bulan. Misalkan kamu awalnya niat naroh uang untuk jangka 12 bulan, tetapi karena kondisi tertentu dan butuh dana darurat, kamu hendak mencairkan lebih cepat dari period, maka kamu juga kena denda. Ribet ya. Selain itu deposito juga setoran nya sih lumayan besar, rata-rata dimulai dari 10.000.000. Tapi, ada juga sistem deposito cicilan yang kamu bayarkan tiap bulan. Waktu itu saya membuka deposito di BCA Syariah. Sistemnya seperti autodebet perbulan. Jadi tidak terlalu berat kalo misalnya tidak punya cukup uang untuk setoran awal. Informasi tentang deposito sangat gampang di akses bahkan lewat m-banking atau e-banking yang ditawarkan bank, kita juga sudah bisa buka deposito tanpa harus datang ke banknya.

Reksadana. Cara kerjanya seperti makelar lah kira-kira. Menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya ke binis-bisnis tertentu. Komponen reksadana itu terdiri dari manager investasi dan bank kustodian. Misalkan reksadananya BCA, bank kustodiannya pasti bank selain BCA, karena bank kustodian berfungsi untuk menjamin uang kita kalo kalo manager investasinya bangkrut. Sedangkan manager investasi adalah yang mengelola uang yang kita setorkan, membuatkan portofolio, dsbnya. Reksadana juga macem-macem, ada pendapatan tetap, pasar uang, campuran, dan saham. Menurut saya, sebagai pemula sebaiknya nyobain pendapatan tetap dan pasar uang saja. Sedangkan untuk mulai berinvestasi, di Indonesia sendiri udah ada platform yang mendukung ini, contohnya http://bareksa.com yang khusus reksadana atau https://www.indopremier.com/ipotgo/ yang bisa juga buat investasi saham. Saya sendiri investasi lewat bareksa karena prosedur registrasinya tidak perlu mengirimkan dokumen fisik seperti ipot. Keunggulan bareksa adalah kamu bisa memilih reksadana mana saja dan membandingkan dari segi barometer, keuntungan, dan reputasinya. Juga bisa melihat informasi dananya diinvestasikan ke perusahaan apa. Bareksa ini minimum investasinya Rp100.000.  Saat ini Bukalapak bekerja sama jg dengan bareksa, dengan minimum setoran Rp10.000 melalui BukaReksa, kamu sudah bisa berinvestasi. Portofolio yang kamu dapat dari hasilberinvestasi melalui platform Bukalapak dan langsung ke Bareksa juga terintegrasi dan bisa kamu lihat di akun Bareksamu.

Kenapa sampai sekarang saya masih berinvestasi di reksadana? mungkin karena saya tidak mau mencari resiko dan saya menyukai pergerakan grafik ketika uang saya naik, meski perlahan. Tapi berinvestasi di reksadana bukan berarti bebas dari resiko rugi ya, saya juga pernah rugi dan sampai sekarang ga bisa dialihkan/jual karena perlu otp ke nomer indonesia. Sebagai investor yang cerdas, don’t put your money and leave it sih. Harus kudu dicek juga terus.

Tabungan Haji/Umroh. Selain itu, saya juga pernah investasi tabungan umroh/haji di BCA Syariah. Menurut saya ini menguntungkan juga karena bunga halal yang lebih tinggi dan tidak ada biaya admin. Selain itu, kita jg nantinya akan dicarikan agen travel terpercaya yang berpartner dengan bank tersebut untuk pelaksanaan ibadah. Meski pada akhirnya duitnya amblas ditarik duluan modal buat kuliah.

Crowdfunding. Mungkin bagi yang sering memantau grup jual beli (e.g FJB ITB) banyak sekali tawaran investasi entah itu untuk peternakan atau pertanian, bahkan pertambangan juga ada. Saya sendiri sering minta dikirimkan proposal meski pada akhirnya ga pernah invest karena faktor kredibilitas investor sih. Beberapa taun terakhir di Indo mulai booming crowdfunding dengan pengelolaan konsep bagi hasil yang dikelola secara syariah. Misalnya vestifarm, crowde, igrow. Menurut saya investasi ini selain bisa memutar uang kita, juga bisa ada sosial impactnya dengan membantu para petani dan peternak untuk panen lebih baik dan layak. Bahkan saya pernah berencana bikin startup terkait ini bersama teman-teman, tetapi terbengkalai gegara kita semua beda-beda daerah.

Investasi Emas. Sangat tidak recommended (baca lebih lengkap: https://www.instagram.com/jouska_id/). Sebagai perempuan berdarah Minang yang biasanya kami turun temurun menyimpan harta dalam bentuk emas, termasuk kado/hadiahpun diutamakan dalam bentuk emas perhiasan, tapi nyatanya investasi ini justru merugikan. Tapi ibuku sendiri ga percaya sih wk. Yasudah~

Bayangkan, jikalau seamit-amitnya kita kehilangan pekerjaan dan tidak punya tabungan pasti akan stress. Tentu hal ini akan berbeda kondisinya jika uang kita masih nambah 10 ribu rupiah tiap harinya yang cukup untuk 2x makan. Nanti kalo udah tau enaknya investasi boleh lah coba mainin saham atau forex.

Kita tidak akan pernah puas sebanyak apapun harta kekayaan kita, tetapi setidaknya kita bisa mencapai tahap “aman” dan “cukup” asalkan terus berinvestasi dengan cerdas.