The Unknown

Habis scrolling twit lama, baru nyadar kalau keinginan untuk membuat tulisan terkait sang pahlawan ini belum kesampaian sejak 1 tahun lamanya. Disclaimer: semua sumber tulisan berdasarkan referensi dan opini pribadi.

Apasih isu setahun terakhir Indonesia yang cukup menggelikan? mungkin kasus Setyo Novanto adalah yang paling heboh, penuh drama, dan mungkin akan memalukan diri anda sendiri jika ditanya oleh orang asing. Anehnya, justru kasus inilah yang menjadi trigger saya untuk tertarik dengan apa yang terjadi dengan pemerintahan Indonesia saat ini, sejarah Indonesia, kejadian sebelum dan sesudah pasca kemerdekaan. Mungkin saja, ini efek pasca Persiapan Keberangkatan LPDP yang mendoktrin untuk mengabdi untuk Indonesia setiap harinya 🙂

Ketika SD/SMP/SMA tentunya kita suka menghafalkan materi sejarah, termasuk pemberontakan G30SPKI dan sejarah PKI. Tentu, kita tahu bahwa disana disebutkan bahwa tokoh2 Komunis di buku sejarah seperti Semaun, Darsono, dan Tan Malaka. Siapakah Tan Malaka?

———

Saya teringat dengan perkataan guru sejarah SMA bahwa apa yang kita pelajari di sekolah atau yang dicetak dibuku belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, bisa jadi semuanya diplintir dipilah pilah untuk menguntungkan pemerintah yang sedang berkuasa.

———

Tan Malaka adalah sosok pahlawan berdarah Minangkabau dengan nama asli Ibrahim dan mendapatkan gelar adat yaitu Datuk Tan Malaka sejak kecil. Remaja yang tumbuh dan besar di masjid dan sudah hafal alquran sejak berumur 10 tahun. Di usia 16 tahun dia meninggalkan Indonesia untuk belajar di Belanda. Disini, dia mulai belajar tentang perpolitikan dunia. Sekembalinya ke Indonesia dan menjadi guru di perkebunan Sumatera Utara, dia menunjukkan concernnya tentang perbedaan antara si kapitalis dan si miskin, yang kemudian menjadi cikal pindahnya ke pulau Jawa dan bergabung berbagai organisasi politik, daripada tetap menjadi pengajar anak buruh perkebunan.

Tan Malaka adalah salah sosok pahlawan dengan nasib yang tragis. Sosok pencetus “Republik Indonesia”, yang kisah hidupnya diplintir, dituduh mengkhianati bangsanya, diasingkan, dan dibuang berkali kali. Sosok yang menjadi inspirasi bagi WR Supratman dalam penciptaan lagu kebangsaan Indonesia inipun harus melarikan diri dari satu negara ke negara lain, dan berganti-ganti nama karena dibenci oleh sekutu. Tan Malaka menjadi sosok berperan penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia yang menjadikannya dekat dengan sang Proklamator. Akantetapi, setelah kemerdekaan justru Tan Malaka ditangkap karena dituduh membuat gerakan bawah tanah untuk untuk mengkudeta Soekarno yang padahal saat itu sebenarnya hendak menumbangkan sekutu. Keberadaannya dipenjara menjadikan kesempatannya untuk menulis banyak buku, yang justru menjadi ancaman. Sampai pada akhirnya dia bebas dari penjara tetapi tetap dianggap musuh oleh bangsanya sendiri. Dieksekusi mati.

Tan Malaka, pahlawan negara yang dibunuh 2x oleh bangsanya, dibunuh pemikirannya, dibunuh raganya. Bahkan lama setelah ditetapkannya menjadi pahlawan, diskusi buku Tan Malaka dianggap berbahaya dan dibubarkan. Bahkan yang memiliki buku karya Tan Malaka pun jua bisa dipenjara. Padahal saya rasa jika mereka betul betul menbaca buku Tan Malaka dengan benar, tidaklah berbahaya, justru pemikirannya tentang ideologi dan cara pandangnya terhadap hidup begitu menarik dan berbeda.

Bahkan mirisnya Tan Malaka baru dinyatakan menjadi pahlawan nasional setelah 14 tahun kematiannya. Dan jejak jasad sang pahlawan yang baru ditemukan di tahun 2018. Miris! Apakah kita yakin bisa menjadi bangsa yang besar suatu saat nanti?

Dari kisah hidupnya saya belajar bahwa sebesarapapun kontribusi kita dalam hal apapun, tidak usahlah mengharapkan balasan atau penghargaan apapun.

 

Ada beberapa kutipan tulisan di buku-bukunya yang sangat menarik buat saya.

“Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas”

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

“Padi tumbuh tak berisik.”

“Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s