Berkelana ke Riga

Sebagai penyandang gelar penerima beasiswa negara, saya sebenarnya agak sungkan menuliskan hal-hal menarik yang terjadi dalam hidup saya. Misalnya, kesempatan saya untuk bisa mengunjungi negara-negara lain yang memang tidak lepas dari andil pemerintah Indonesia yang membuat saya bisa sampai di negara ini. Memerikan akses kepada saya untuk bisa menikmati perjalanan ke negara-negara lain dengan biaya transportasi lebih murah. Bisa mencicipi pelayaran mevvah ke negara baltic dengan modal 200 ribu saja. Atau mengunjungi negara scandinavia lainnya dengan modal 75 ribu rupiah saja untuk return ticket. Tapi, satu hal yang pasti saya ingin beritahu bahwa tidak semua penerima beasiswa itu benar-benar miskin dan hanya mengandalkan duit beasiswa untuk jalan-jalan. Toh, untuk negara seperti Swedia, living allowance yang diberikan oleh pemerintah benar-benar pas-pas an untuk hidup, tidak seperti negara eropa lainnya yang cenderung lebih murah biaya hidupnya dan besar tunjangan hidup yang lebih mahal dari pada negara Swedia. Pernah bertemu dengan orang Indonesia yang tinggal di Swiss, menurut mereka Swedia dan Swiss 11 12 untuk urusan biaya hidup. Saya tidak memungkiri sih ada yang benar-benar menggunakan uang tunjangan hidup untuk europe travel, tapi itu tidak berlaku untuk semua penyandang beasiswa.

Jadi, dengan berkontemplasi dengan pikiran sendiri, akhirnya sayapun memutuskan menulis apapun yang menarik menurut saya. Baik ataupun salah pasti akan selalu ada yang menghujat.

Latvia, Estonia, Lithuania, merupakan negara-negara baltic yang umumnya disambangi oleh para pelajar Swedia di kala weekend atau setelah balada ujian mengahdang. Untuk mengunjungi negara ini, kita melakukan cruise selama hampir 18 jam dengan modal 160 krona alias sekitar 250 ribu rupiah. Biasanya orang-orang memanfaatkan momen 18 jam untuk minum-minum yang konon katanya lebih murah dan legal. Di Swedia sendiri minuman keras tidak dijual dengan bebas. Untuk orang-orang yang tidak minum alkohol, sebenarnya perjalanan ini cukup membosankan dan mual lautan. Saya sedikit tertolong karena pergi bersama 11 orang lainnya yang 80% nya tidak minum.

Kami berangkat pada pukul 17.00 waktu Swedia dan sampe pada pukul 11 keesokan harinya. Kami menghabiskan waktu di kapal dengan bermain warewolf atau bermain kartu, karaoke, mencoba dance on the floor, etc.

Kami memiliki waktu 6 jam di Riga sebelum berlayar ke Stockholm. Sesampai di Riga, kami mengunjungi tempat yang menjadi icon Riga, namanya sedikit aneh: ‘komedo’. Kami disambut dengan orang-orang yang tengah melakukan demonstrasi yang menyebabkan Riga tampak seperti ibukota yang cukup ramai dalam pandangan saya.

Kami mengunjungi restoran di Riga yang cukup terkenal dan murah, namanya Lido. Kemudian membeli pernak-pernik seperti gantungan kulkas/kartu pos yang tak boleh dilewatkan. Di sini saya baru tau kalo icon Riga adalah seekor kucing hitam. Kami pun mengunjungi KFC yang katanya jauh lebih enak daripada KFC satu-satunya dan baru buka yang ada di Stockholm. Dan benar, KFC di sana jauh lebih murah dan terasa seperti yang ada di Indonesia. Dan tampaknya, saya membutuhkan 18 jam perjalanan untuk bisa mencicipi KFC rasa Indonesia lagi.

Kata teman saya Riga sangat mirip dengan Berlin untuk bangunannya, bisa jadi ini karena faktor sejarah dan perang dunia mungkin ya. Biasanya saya sedikit membaca wikipedia dulu tentang negara yang akan saya datangi. Riga cukup teratur, cukup dingin, dan sangat murah dibandingkan Stockholm. Kami sempat-sempatnya Fika (tradisi Swedia untuk coffe break) di sebuah kedai kopi Riga. Hal yang sangat jarang kami lakukan di Stockholm karena begitu mahal. Menyenangkan rasanya bahwa Riga tak semahal Swedia.

Transportasi seperti kereta di Riga tidak terlalu bagus, bisa dikatakan tidak lebih bagus daripada commuter line di Jakarta. Pasar di Riga juga mirip dengan pasar-pasar di tanah abang, cuman lebih bersih saja. Satu lagi, yang saya perhatikan ternyata orang Riga ga se-fashionista orang Stockholm.

Penerima beasiswa yang jalan-jalan itu bisa saja dari uang tabungannya. Jadi tidak perlu dihujat. Yang perlu dipertanyakan adalah penerima beasiswa yang baru lulus tak punya tabungan sebelum kuliah, ketika lulus dari luar negeri bisa DP apartment/mobil di Jakarta pake tabungan sendiri ceunah. Ahey.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s