Visiting Copenhagen

Denmark mungkin adalah negara di scandinavia yang tidak begitu ingin saya kunjungi selama ini. Sesempatnya saja. Padahal Denmark terkenal dengan negara no 2 paling bahagia se-dunia setelah New Zealand.

Di saat hectic persiapan ujian, seorang teman memberikan informasi adanya tiket flixbus yang sedang promo untuk bulan Maret ini. Jadilah informasi ini membuat saya tertarik dan tanpa ragu membooking tiket perjalanan langsung juga pada saat itu untuk keberangkatan setelah ujian period 3 berakhir. Harga tiket promo tersebut adalah 58kr untuk pp atau sekitar 89.500 rupiah. Sebenarnya, alternatif yang umum mengunjungi copenhagen adalah dengan kereta atau pesawat yang relatif lebih mahal. Untuk bisa menikmati transportasi murah seharga sekali perjalanan ke Bandung, ada pula waktu yang harus dibayar. Sebagai perbandingan, untuk mencapai copenhagen dengan kereta, dibutuhkan waktu sekita 6 jam, sementara dengan flixbus, dibutuhkan waktu sekitar 9 jam perjalanan. Untuk memaksimalkan waktu, kami berangkat tengah malam dan balik tengah malamnya.

Kami berdua (saya dan Ria Almas) berangkat pukul 22.50 dan sampai keesokan pagi harinya. Kami dijemput oleh teman (Sahil dan Danto) yang sudah datang duluan di Copenhagen. Kesan pertama untuk Copenhagen adalah gloomy dan windy. Dan di sinilah saya baru tau kalo ternyata memang angin yang kuat ini jadi berkah bagi negara ini untuk jadi sumber pembangkit tenaga listriknya. Karena teman saya ini sudah beres menjelajahi pada hari sebelumnya, jadilah kita mendapatkan tour guide gratis.

Tempat-tempat yang kami kunjungi (gratis):

  1. City Terminalen. Sebenernya kami turun bus langsung ke city terminalen buat numpang ke toilet, dan ternyata bayar. Dan mahal! 5dkk alias sekitar Rp 10.500. Oiya di toilet ini, tidak semua keran airnya bisa untuk diminum. Jadi harus waspada.
  2. Nyhavn merupakan sebuah pelabuhan yang menjadi icon Denmark yang dulu merupakan salah satu pelabuhan tersibuk pada jamannya.
    photo_2019-03-20_23-38-49
  3. Patung Hans Christian Andersen. Bagi yang tau kisah little mermaid, hans inilah penulisnya. Sebenernya saya baru tau banget tahun kalo little mermaid itu cerita dari negeri Denmark gegara ada temen sekelas orang Denmark yang cerita. Ini sebenernya lokasinya deket sama Nyhavn.
    photo_2019-03-20_23-38-53
  4. Little Mermaid
    Ekspektasi saya akan patung little mermaid  begitu tinggi, hingga akhirnya kecewa pas liat patungnya. Buat mencapai patung little mermaid ini perjalanan yang dihabiskan lumayan bikin pegel.
    photo_2019-03-20_23-40-24
  5. Tivoli merupakan wahana permainan seperti Dufan dan merupakan salah satu wahana permainan tertua se eropa katanya. Tivoli tutup karena musim dingin, jadi foto-foto dari luar saja. Tivoli ini di depan persis city terminalen. Jadi, keluar station langsung deh liat Tivoli.
    photo_2019-03-20_23-38-52
  6. Christiansborg castle
    photo_2019-03-20_23-38-37
  7. Kastellet
    photo_2019-03-20_23-38-51
  8. Copenhagen Opera House
    Kita cuman melihat opera housenya dari jauh. Ekspektasi saya, jikalau malam kayak Opera Housenya Sydney, ternyata Copenhagen di waktu malam hari kayak kota mati, operanya juga. Lampu di tempat wisata aja minim! Typical scandinavia mungkin?
    photo_2019-03-20_23-30-43

 

Sebenernya banyak sekali objek wisata yang ada di Copenhagen yang pengen kita kunjungi, hanya saja karena keterbatasan waktu, jadilah hanya mengunjungi tempat-tempat yang mainstream.

Akomodasi
Kita menginap di Airbnb yang saya pesan. Airbnb ini lokasinya ada di zona 1. Oiya karena kita berada di Copenhagen total 2 hari (1 hari sampe dan 1 hari buat balik), maka pemerintah Denmark sebenernya memberikan kita gratis transportasi untuk semua zona hanya dengan menunjukkan tiket keberangkatan pada hari pertama dan tiket balik pada hari berikutnya ketika hendak menaiki transportasi.

Airbnb yang kami sewa sangat melebihi ekspektasi kami dan juga host yang sangat fast response. Buat makan sendiri, kami membawa bekal dari Stockholm (thanks to Rozzi yang sudah membekali kami dengan semur ayam dan orek tempenya).

Karena airbnb kita tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki dari objek-objek wisata, jadilah kami mendapatkan pengalaman baru transportasi di sana.

Transportasi

Ada 3 jenis transportasi yang kami gunakan:

  1. Metro
    photo_2019-03-20_23-25-25.jpg
  2. Train
    photo_2019-03-20_23-27-19
  3. Bus
    photo_2019-03-20_23-27-22

Menurut saya pribadi, transportasi di Denmark lebih modern, bersih, rapi, tetapi lebih mahal dibandingkan dengan di Stockholm. Selain itu peron Metro/Train di Copenhagen terbuka sehingga tidak senyaman di Stockholm. Bayangkan di negara dengan kecepatan anginnya ga nyantai, kamu harus nungguin kereta di langit terbuka. Oiya satu lagi yang unik, buat tap card di train itu ada di peronnya. Sebenernya bisa aja ya orang naik kereta  kalo kartu transportnya ga ada. Mungkin, di set selonggar begini karena emang orang-orangnya sudah jujur, ga ada pengamanan ketatpun tiada yang ngambil untung.

Di sini kami bertemu beberapa orang Indonesia secara tidak sengaja. Dan karena teman saya (Sahil) ini pecicilan orangnya, jadilah semua orang Indonesia nya disapa. Kami berkenalan dengan mereka. Kami bertemu dengan 3 karyawan PLN yang sedang tugas belajar di Denmark untuk 2 minggu, yang salah kostum kirian Denmark ga dingin kali ya, ga pake jaket proper. Off topic: dulu saya pernah keterima PLN yang saya decline pas hari tanda tangan kontrak karena saya tidak ingin terikat dengan dunia BUMN yang menurut keyakinan saya pasti kecil kesempatan untuk sekolah lagi atau untuk mengunjugi negara barat. Hari itu, terbantahkan sudah. Terus kami juga bertemu dengan rombongan keluarga yang tampak bahagia yang sedang berlibur ke eropa. Oiya, ternyata mereka tinggal di tempat kosan saya dulu di BSD dan anaknya yang masih SD ternyata sekolah di SD yang sama dengan si Sahil.

Menurut saya Copenhagen kota yang begitu indah dari segi arsitekturnya yang harus dikunjungi, tidak salah teman kantor saya bercita-cita ingin hidup di Denmark dan saya baru paham itu sekarang.

Sesampai di Stockholm, saya sadar ternyata bangunan di Stockholm begitu flat. Warna bangunannya itu-itu aja dan tampak boring. Tapi saya tetap cinta Stockholm!

Sampai jumpa lagi, Copen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s