Saying Good Bye to TU Berlin

photo_2019-05-04_16-31-34
TU Berlin dari seberang jalan – Easter Break 2019

30 April kemaren adalah batas accept untuk melanjutkan tahun ke-2 di TU Berlin dengan jurusan yang sama. Saya membatalkan niat pindah ke TU Berlin karena tidak didukung oleh sponsor utama pendidikan saya, yaitu beasiswa LPDP.

Throwback. Akhir tahun lalu, saya mendapatkan tawaran untuk join program double degree. Switch dari program study saya sekarang ini master program KTH Royal Institute of Technology Sweden menjadi program EIT Digital, sebuah program double degree dimana kita bisa berkuliah di dua negara eropa yang berbeda. Agar diterima, saya harus mensubmit lagi motivation letter pada akhir tahun lalu. Selang dua bulan kemudian, saya mendapatkan kabar baik bahwa aplikasi saya diterima oleh TU Berlin berikut beasiswanya. Sebenernya ada beberapa opsi universitas lain yang bisa saya pilih untuk program saya yaitu Alto di Finlandia, Twente di Belanda, Paris – Sud di Perancis. TU Madrid di Spanyol, dan Univ Trento di Italia. Kenapa saya memilih TU Berlin? Berkuliah di Jerman sebenarnya adalah salah satu impian saya sejak dulu karena termasuk dengan negara paling maju di bidang engineering.

Selain itu TU Berlin termasuk memiliki ranking yang cukup bagus menurut QS World Ranking  yaitu 47 untuk bidang Engineering dan Teknologi (KTH: 36). Ranking yang cukup bagus ini saya harapkan bisa melunakkan hati LPDP untuk menerima pengajuan double degree saya. Sebenarnya sebelum mendaftarkan diri untuk program double degree saya yakin LPDP tidak akan merestui. Usaha.

Tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan ke TU Berlin, saya juga mendapatkan tawaran beasiswa dari EIT Digital untuk tuition fee dan living cost. Hanya saja, karena saya non-EU student saya saya tidak mendapatkan scholarship penuh untuk tuition fee, hanya 50%. Akantetapi, saya mendapatkan living allowance yang lebih besar dibandingkan yang diberikan LPDP.

Screen Shot 2019-05-04 at 16.41.53

Sebenarnya saya bisa saja melepas LPDP dan mengambil beasiswa EIT, hanya saja saya tidak mendapatkan full tuition fee di beasiswa ini. Menimbang hal inilah akhirnya saya mantap stay di KTH saja untuk setahun ke depan. Selain itu ada gossip miring bahwa TU Berlin sangat susah lulus tepat waktu yang membuat saya menjadi legowo saja saat pengajuan saya ditolak.

Halo Swedia, mari kita berdingin-dingin lagi setahun ke depan 🙂

2 thoughts on “Saying Good Bye to TU Berlin

Leave a Reply to kutujalanan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s