Teaching Assistant ITB vs KTH

Istilah teaching assistant sendiri sebenarnya tak layak disematkan untuk posisi dengan jobdesk yang saat ini saya lakukan. Karena pada dasarnya, yang dilakukan adalah sebagai assistant yang standby di lab. Jika di ITB dulu, posisi ini disebut Asprak (Asisten Praktikum) sedangkan di KTH sendiri disebut dengan istilah Teaching Assistant (agak berlebihan ya), meski ga ngajar materi di kelas sama sekali.

Semester 2 lalu saya mengambil sebuah mata kuliah website programming berbasis JavaScript. Mata kuliah ini pulalah yang menjadi pintu pembuka rejeki saya. Mengantarkan saya mendapatkan pekerjaan sebagai part time software engineer di sebuah perusahaan Swedia dan juga menjadi Teaching Assistant mata kuliah Web Programming. To be honest, saya sama sekali tidak pernah mengoding website dengan JavaScript sebelum mengambil mata kuliah ini. Berkat course udemy dan youtube tutorial yang saya lalui, mata kuliah ini saya lalui dengan cukup memuaskan. Meski sampai sekarang saya masih ngerasa bego banget.

Proses menjadi teaching assistant ini sebenarnya cukup mudah. Dosen menghubungi saya untuk menawarkan posisi ini. Jujur sebenarnya saya tidak percaya diri sekali untuk mendaftar. Tetapi karena saya sudah berjanji pada diri saya kalo saya mendapatkan part time job web programmer, saya harus mendaftar posisi Teaching Assistant agar saya semakin fasih, familiar, dan bisa lebih jago akan website programming ini.

Ada perbedaan mendasar antara praktikum di KTH dan di ITB. Di ITB, praktikum Alstrukdat (baca: all stroke death) atau PTI A/B termasuk praktikum paling menegangkan sih buat saya. Bagaimana tidak, kita datang ke lab dan harus mengerjakan soal dalam rentang waktu yang diberikan, layaknya ujian yang tidak boleh nanya-nanya. Bahkan peluang untuk dibantu oleh assistant sangat kecil sekali. Kalo dipikir-pikir, bekerja sebagai asprak di ITB dulu bisa dibilang “easy money”. Sebagai asisten PTI B (programming C++) kita membantu student untuk hal-hal yang tidak berkaitan kodingan. Mungkin bisa dibilang jabatan ini lebih cocok disebut pengawas praktikum daripada asisten praktikum. Buat grading pun juga gampang, tinggal run programnya untuk melihat output. Meskipun nilai diberikan berdasarkan kodingan juga, tetapi hasil code review sama sekali tidak pernah diberikan ke mahasiswa. Mereka cuman tahu nilai akhir praktikum mereka berapa. Gimana improve diri coba. Ya, semoga sekarang tidak lagi sama dengan kondisi saya saat menjadi asisten kurang lebih 7 tahun yang lalu.

Berbeda dengan praktikum pemrograman di ITB, praktikum disini lebih bertujuan untuk membantu student untuk mengerti memprogram yang baik dan benar untuk menyelesaikan tugas mereka. Praktikum di KTH ini juga bukan grading yang berpengaruh ke nilai akhir mata kuliah, akan tetapi hanya sebagai persyaratan untuk bisa mengambil proyek. Nilai akhir diambilkan berdasarkan nilai proyek. Untuk mata kuliah website programming ini sendiri, mereka memiliki tugas yang harus disubmit setiap di akhir minggu. Jumlah assistant untuk mata kuliah ini cukup banyak, 4 orang, untuk menghandle 90 mahasiswa S1 Computer Engineering. Jadwal lab yang disediakan 4 kali dalam seminggu. Student bisa datang apabila ingin meminta bantuan assistant atau ingin mempresentasikan tugas mereka kepada assistant. Saya pikir tidak akan banyak yang akan hadir dengan jadwal praktikum 08.00-10.00 di pagi winter Swedia nan gelap. Ternyata lab selalu penuh. Tak jarang juga kami harus membantu student melebihi jadwal bertugas. Tugas saya sebagai assistant meliputi membantu apapun terkait codingan(debugging, logic, analysing, github issue, dll), menerima presentasi tugas, dan code review. Banyak juga kan! Sebenarnya setiap kali praktikum usai ada selalu beban yang muncul di kepala saya. Karena pasti ada saja satu atau dua hal yang saya tidak bisa saya bantu pecahkan. Yang akhirnya menyadarkan saya bahwa memang saya belum sejago itu dan saya harus terus belajar. Memang belajar terbaik adalah dengan cara mengajarkan.

Menurut saya, kalo saja praktikum di ITB terutama buat PTI A/B diubah mengikuti praktikum di KTH yang basically bertujuan lebih mengajarkan daripada menguji, pasti orang-orang di ITB akan mencintai kodingan. Atau setidaknya, akan lebih banyak peminat Informatika dibandingkan Elektro :p

4 thoughts on “Teaching Assistant ITB vs KTH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s