Mengeluh

Seperti dejavu dengan kehidupan di tahun 2015, rasa-rasanya, 2 bulan terakhir adalah bulan-bulan paling berat dalam hidup #lebay.  Deadline tugas tiada abis. Saat itu saya mengambil 4 mata kuliah yang deadline pengumpulannya cuman berselang seminggu.  Mulai dari tugas individu, proyek, report, paper, exam, dan lain-lain. Selain itu, saya juga memiliki dua kesibukan lain buat mencari tambahan uang. Ditambah lagi alergi yang tidak kunjung sembuh sudah 3 minggu lama nya. Entah karena stress bikin jadi lama sembuhnya atau malah karena alergi jadi semakin stress.

Sebenernya ga ada yang harus dilakukan kecuali dijalani saja satu persatu. Kerjakan dan selesaikan dengan tenang. Tapi, tetap saja, keluhan tidak dapat dihindarkan apalagi ketika mengerjakan tugas kelompok yang boleh dikata 80% dikerjakan sendiri. Kalo pernah nonton cheese in the trap, kira-kira nasib saya mirip sama tokoh utamanya. Sebenernya, ngerjain tugas kelompok yang hampir dikerjakan sendiri ga kali ini aja, liburan tahun lalu sebelumnya juga sama. Semua anggota kelompok saya mudik dan susah dijangkau. Bahkan kalo dipikir-pikir lagi, ini juga bukan terjadi selama musim liburan saja. Eksekusi tugas kelompok yang tidak berimbang ini juga terjadi beberapa kali. Sebenarnya, pembagian kerja sudah diatur dari awal, akan tetapi kita tidak bisa berharap banyak untuk orang-orang yang hanya menargetkan ‘lulus seadanya’. Biasanya mahasiswa tipe ini akan menghilang dan muncul setelah tugas disubmit dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. IMO, mahasiswa internasional disini sepertinya ownership terhadap kerja kelompoknya bisa dibilang lebih rendah dibandingkan teman-teman dulu S1 di Indonesia. Apakah karena orang Asian terlalu nilai oriented atau karena orang di sini don’t care ama angka di atas kertas? Sedikit banyak tulisan article ini ngena banget. “…American parents also reward their children for mediocre school performances, fearing that if they are too negative, they might permanently damage their children’s self-esteem”. Terus dibahas juga, “While American parents go to great lengths to stress the importance of effort regardless of the result, Asian parents tend to be more results-oriented”.

Oiya, pengalaman paling buruk saya berkelompok adalah pada saat exam sebelum liburan musim panas 2019. Sebenernya, kami harus submit final report untuk suatu mata kuliah. Dari awal kami sudah membagi tugas per orang. Akan tetapi, 2 hari sebelum hari H, dua orang mengompori anggota lain agar tidak usah menulis report dengan alasan kesibukan lain. Pada akhirnya 5 dari 8 orang bersepakat ga mau nulis. Padahal kalo ga ngerjain report nilai maksimal yang didapatkan cuman C. Wah panik donk ya saya, secara saya udah ngerjain bagian saya 2 minggu sebelumnya. Alhasil, hanya 3 orang yang sudah menulis bagian masing-masing, harus menyelesaikan bagian mereka yang tadi tiba-tiba tidak mau menulis. Sungguh kecewa sekali bahkan group chattingnya sempat panas. Saya bahkan ampe ga main dan ga tidur sembari terus mengeluh2 juga sih demi menyelesaikan bagian mereka itu yang tujuannya demi saya sendiri. Untunglah nilainya gak mengecewakan.

Dua bulan terakhir ini juga rasa-rasanya saya hidup cuman bangun, ngerjain tugas, kampus. Begitu terus hingga bahkan lupa makan yang berkualitas. Bahkan sebelum tidur saya malah sering nyari video motivasi, baca quote motivasi di pinterest, atau article motivas yang intinya cara membangkitkan semangat diri. Apalagi winter gelap yang tidak ada matahari. Sambil liat jendela, sering berfikir, wajar aja ya kalo mahasiswa bunuh diri.

Selama ini, saya lebih sering mengeluh di dalam hati karena  belum menemukan orang yang pas buat menampung keluhan-keluhan saya. Tenyata ya, hal ini sangat ga baik. Katanya, complaining selama 30 menit aja udah bikin kamu lebih bodoh. Riset lain juga menyebutkan complaining yang berlarut-larut akan menyebabkan tubuh mengeluarkan hormon  stress cortisol. Hormon inilah pemicu penyakit berbahaya seperti kolestrol, diabetes, jantung, obesity, dan bahkan bisa memicu dementia.

Well, salah satu resolusi tahun ini adalah tidak mengeluh. Meskipun harus mengerjakan yang harusnya tidak dikerjakan sendiri, menghabiskan waktu yang harusnya saya habiskan untuk mencari uang, saya mencoba memulai mengambil positifnya aja. Saya mengerjakan bukan buat nilai kok, bukan buat submit tugas kok, tapi saya ingin menikmati proses belajar, belajar menulis lebih baik, dan lain-lainnya buat mengimprove diri saya sendiri. Untungnya Swedia sedang berhawa dingin (4 -7 C), keluar ruangan dikit literally bisa mendinginkan kepala. Ga kebayang bagaimana pekerja stress Jakarta 🙂

“If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain.” – Maya Angelou

One thought on “Mengeluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s