Berburu Tulip di Negeri van Orange

Berhubung corona time dan tidak akan ada liburan sampai pulang ke Indonesia, I devoted myself to write my past experiences here.

Liburan Easter tahun lalu, saya dan dua orang teman saya memutuskan jalan-jalan ke Belanda dan sekitarnya. Sebenernya itupun karena saya maksa-maksa mereka ikutan sih. Menurut trip advisor, waktu terbaik mengunjungi Belanda adalah ketika spring dimana tulip lagi mekar2nya. Saya bersyukur tidak menyia-nyiakan kesempatan itu karena liburan easter tahun ini hanya akan di kamar.

Sebagai traveler non europe daratan, kami harus pintar-pintar memilih penerbangan. Salah satunya adalah memilih LCC dengan airport yang cukup jauh (sekitar 1.5 jam) dari Stockholm. Tujuan utama perjalanan kami adalah Belanda. Akan tetapi karena mempertimbangkan biaya penerbangan dan memanfaatkan waktu liburan seefisien mungkin, kami memutuskan berangkat dari Stockholm menuju Dusselfdorf (Jerman) dan kemudian naik bus menuju Antwerp (Belgia) dan kemudian naik bus malem ke Belanda. Karena mengambil penerbangan LCC, pesawat kami delay hingga sekitar 2 jam. FlixBus (bus antar negara di eropa) telah dipesan dengan waktu berbeda 1 jam dari jadwal kedatangan di bandara, jadilah waktu kami nyampai bandara di Jerman sangat mepet sekali untuk naik bus dari Dusseldorf. Parahnya, kami sempat nyasar dan mesin pembeli tiket kereta dari bandara ke city center Dusseldorf tidak berfungsi. Kami naik train illegal. Beruntung tidak ada pengecekan tiket oleh petugas. Akan tetapi setelah kereta berjalan, kami akhirnya membeli tiket secara online. Sesampai di stasiun tujuan, kami masih sempat-sempatnya nyasar, padahal waktu untuk naik Flixbus tinggal 5 menit lagi. Beruntung, akhirnya kami bisa sampai di lokasi Flixbus tepat waktu. Bersyukur sekali dengan antrian yang cukup ramai membuat bus tidak berangkat ontime. Oiya, karena saking hausnya, saya sempat-sempatnya ke mini market terdekat selagi orang-orang mengantri naik bus untuk membeli air minum. Sayangnya, mereka tidak menerima pembayaran dengan kartu…..Sedikit shock, padahal tidak punya uang cash sama sekali.

Di Belanda, kota tujuan pertama kami adalah Denhag, karena numpang nginep di temen. Hal yang pertama kali terlintas dipikiran saya pas nyampe stasiun ini adalah perasaan kesel sendiri dengan sejarah bahwa Indonesia sempat membayar hutang negeri mewah ini di awal kemerdekaan.

Kami sampai tengah malam di Denhag central. Kami dijemput oleh teman kami yang sangat baik sekali bersama pacarnya yang ternyata anak elektro 2008. Kami naik bus menuju apartment. Lucunya, ketika mereka turun dari bus, saya dan satu orang teman lain malah masih di bus yang terus berjalan. Di Belanda itu, buat turun bus kamu harus tap card lagi. Mungkin karena sedikit ngantuk dan kelamaan tapping bus card, pintu bus sudah menutup dan bus berjalan. Dan kami saling menatap dan ketawa sendiri dengan kebodohan kami. Akhirnya kami berhenti di next stop dan berjalan kaki menuju bus stop sebelumnya. Salah satu keuntungan jalan-jalan di eropa adalah mobile internet yang bisa dipake di semua negara EU manapun (tentunya pake paket EU sih yg sedikit lebih mahal dibandingkan paket internet local). Jadi, meskipun kami nyasar, tidak perlu khawatir selama baterai handphone masih ada.

Di Denhag banyak sekali tempat-tempat yang dikunjungi. Salah satunya adalah pantai Scheveningen Strand yang sangat cantik. Di dekat pantai ini ada food court yang toiletnya berbayar 1 Euro alias 18 ribu rupiah…Gila!

Hari berikutnya di Belanda, kami ke Kinderdijk, demi mewujudkan hasrat saya untuk berfoto di kincir angin. Haha. Sebeneranya untuk masuk ke taman ini tidak terlalu mahal, akan tetapi jikalau ingin naik kapal untuk sightseeing, kami harus membayar tiket lagi. Pulang dari Kinderdijk, kami berhenti di Rotterdam untuk sekedar cuci mata di Demooiste, pusat kulineran sana. Malamnya, kami mengunjungi pasar malam yang baru saja buka di Denhag. Lumayan worth it.

Keesokan harinya kami berencana menuju Keukenhof. Di sini, saya mengajak Sepgil yang kebetulan bekerja di Delft untuk ikutan. Awalnya, plan kami adalah menyewa sepeda dari Leiden menuju Keukenhof. Sayangnya, rental sepeda yang di dekat stasiun habis disewakan karena peak season. Jadilah akhirnya kami naik bus menuju Keukenhof. Kami harus membayar tidak kurang dari 26 euro atau sekitar 400 ribu rupiah untuk naik bus ke Keukenhof dari Leiden dan untuk masuk tamannya. Mahal nauzubillah!

View di luar Keukenhof

Menurut saya pribadi, masuk Keukenhof sangat tidak worth it! Jika anda ingin melihat tulip di Belanda, lebih baik menyewa sepeda dan bisa berkeliling taman tulip yang ada di luar Keukenhof yang jauh lebih bagus dan lebih luas. Setelah bosan dengan tulip, kami kembali ke Leiden dan bertemu dengan anak-anak TU Delft. Leiden di sore hari sangat begitu indah dan banyak puisi di gedung-gedung itu. Sebelum pulang, kami sempatkan mencicipi restoran Indonesia di sana yang cukup tidak sesuai antara harga dan rasa.

Malam harinya, saya pindah penginapan ke Delft di kosan mahasiswa TU Delft yang lg tidak di Belanda. Keesokan harinya saya bersiap-siap meninggalkan Belanda, karena harus naik Flixbus ke Berlin pada malam harinya. Di Belanda memang mudah sekali menemukan orang Indonesia. Kami depan-depannan sama sepasang suami isteri yang sedang jalan-jalan di Belanda habis mengunjungi anaknya yang lg S3 di TU Delft. Kebetulan si anaknya ini jg anak Elektro ITB jg dulunya. Somehow, berasa lg naik kereta argo parahyangan. Di Belanda ini kita harus sedikit mikir-mikir dengan rute yang akan di tempuh karena mahalnya transportasi dan persyaratan minimum saldo yang harus ada di kartu. Pagi hari setelah jalan-jalan di lingkungan Delft, kami menuju Amsterdam untuk makan siang dan melihat hiruk pikuk kota wisatawan. Yang rame banget dan overrated. Setelah makan siang, kami menuju Zaanse Schans untuk jalan-jalan sampe magrib. Kami menyewa sepeda di sana selama sejam. Di sini saya bersyukur untung penyewaan sepeda Leiden ke Keukenhof waktu itu habis. Saya ternyata tidak terlalu fasih bersepeda dan bahkan hampir nabrak pesepeda lain di jalan raya.

Malamnya saya menuju Berlin sendirian, karena penerbangan saya dari Stockholm dari sana sedangkan teman lainnya dari Amsterdam.

Kadang amazing sendiri dengan kemampuan otak untuk bisa merangkai rentetan memori dengan modal ig story. Bisa flashback dan jadi cerita. Mari install Instagram lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s