Northern Lights di Langit Swedia

Liburan natal kemaren, saya bersama 3 orang teman Indonesia mengunjungi Abisko yang berada di kawasan Arctic Circle, salah satu tempat terbaik untuk melihat aurora borealis. Saat natal 2018, saya bersama 12 orang teman saya hunting aurora di Norway. Sayangnya dari total 8 hari yang kami habiskan, hanya beberapa menit saja kami dapat menyaksikan aurora yang sangat tipis. Kalaulah tanpa ditangkap kamera, aurora yang tipis itu sangat mirip dengan awan putih yang bergerak cepat.

Arctic Circle - Wikipedia
Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Arctic_Circle#/media/File:Arctic_circle.svg

Abisko merupakan sebuah taman nasional yang berada di kota Kiruna yang berlokasi 1300km di utara kota Stockhom. Abisko berjarak hampir 100km dari kota Kiruna. Abisko merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan aurora dikarenakan tempatnya berada di circle arctic dan juga sangat bebas dari polusi cahaya karena jumlah penduduk yang kurang dari 200. Dibutuhkan 17 jam perjalanan dengan menggunakan kereta. Waktu tempuh yang sama yang dibutuhkan untuk pulang ke tanah air melalui jalur udara. Sehari sebelum keberangkatan, berita mutasi virus covid-19 dari UK mulai mengkhawatirkan. Pasalnya virus tersebut sudah masuk ke Denmark. Tinggal menunggu jam saja akan sampai di daratan Swedia. Pemerintah swediapun akhirnya mengeluarkan anjuran untuk tidak mengunjungi tempat-tempat tidak penting. Dan juga anjuran untuk memakai masker dan maksimal berkumpul 8 orang (aturan yang sejatinya sudah diterapkan di negara lain berbulan-bulan yang lalu).

Karena tiket duduk habis, kami memesan tiket sleeping (kabin). Seenggaknya kami tidak akan berinteraksi dengan banyak orang ketika berangkat. Kan gak lucu kalo sampe di Abisko, malah kami positif covid. Pemesanan kereta tujuan Abisko Turistation dapat dipesan melalui website ini https://www.sj.se/ . Sangat beruntung jika kamu masih pelajar (pelajar dari negara manapun yang memiliki student ID) atau berumur dibawah 25 tahun karena mendapatkan harga yang jauh lebih murah. Kabin ini dilengkapi dengan fasilitas 6 tempat tidur, selimut, bantal, air minum, dan tentunya heater. Sangat sayang sekali tidak ada internet karena sinyal mobile phone juga ilang-ilangan.

Kami berangkat pada 22 Desember 18.00 dan tiba keesokan harinya pukul 11.30. Sebelum mencapai Abisko Turistation, kereta berhenti sekitar 20 menit di stop bernama Abisko. Meskipun banyak orang turun, tapi ini bukanlah tempat pemberhentian sesungguhnya untuk menuju Turistation. Pagi itu kami bangun agak telat. Kami baru bangun pukul 9.30 (FYI subuh sampai jam 10). Setelah sarapan dan berberes, saya tiba tiba mengecek google map dan di google map itu sendiri menunjukkan kami sudah berada Abisko. Kami sempat-sempatnya mengangkat koper kami keluar kereta. Untunglah kami bertanya ke orang sekitar sebelum ditinggalkan oleh kereta. Ada untungnya kereta berhenti cukup lama. Agak berbeda dengan pemberhentian lainnya yang hanya memakan waktu beberapa menit untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, kami tidak sampai ditinggalkan kereta. Jika saja kami tertinggal, kami harus berjalan 30 menit menuju penginapan dengan menggeret koper di salju yang tebal.

Kereta kami berhenti tepat di Abisko Turistation. Pentingnya menghapal rute kereta karena tidak ada pengumuman dari dalam kereta. Papan nama stasiun pun juga hanya beberapa. Alih alih belum sempat membaca, bisa bisa kereta sudah melaju lagi. Penginapan kami sangat dekat sekali dengan pemberhentian. Sayangnya cek-in penginapan baru bisa dilakukan pada pukul 15.00. Kami diberikan ruang tunggu yang hangat sampai sebelum cekin. Penginapan disini cukup pricey (menurut dompet saya), 500 kr per-malam untuk kamar jenis bunkbed yang ber isi 6 orang. . Tapi fasilitasnya lumayan cukup bagus. Akomodasi bisa dipesan di https://www.swedishtouristassociation.com/facilities/stf-abisko-mountain-station/accommodation/. Disediakan pantry untuk memasak dan juga sauna (tanpa kunci :v). Untuk makai dapur dan sauna, kita harus membooking di kertas yang tertempel di pintunya. Sayangnya di kamar ini harus membawa bed linen sendiri. Jelas sekali bahwa kamar tidak dibersihkan setelah tamu keluar. Sebelum checkout kami juga diharuskan membersihkan kamar yang kami tempati, menyapu, membuang sampah dan lain sebagainya. Karena lokasinya yang jauh dari kota dan sangat sedikitnya jumlah penduduk, groceries berada 20km dari penginapan kami. Oleh karena itu kami harus membawa perbekalan atau bahan-bahan untuk dimasak. Transportasi disini juga mengandalakn bus sekolah yang hanya berada pada jam tertentu. Kami sempat bermaksud mengunjungi Ice hotel yang berada di Kiruna di hari natal. Akan tetapi tidak ada bus yang beroperasi. Salah satu solusinya adalah dengan naik taksi yang harganya 2500kr. Sungguh sangat mahal! Untung saja saya meyakinkan yang lain untuk tidak jadi ke sana. Selain lokasi yang sangat jauh dari kota, penginapan kami ini juga payah dalam ketersediaan internet. Selain itu ada fee 325kr untuk menjadi membership. Membership yang diharuskan. Aneh!

Hunting aurora di Abisko merupakan hunting aurora yang sangat manja. Kita bisa saja menunggu aurora dari dalam kamar. Kita dapat mengakses website ini https://auroraskystation.se/en/live-cam/ untuk mengetahui apakah aurora sudah terlihat. Ada dua buah kamera menghadap arah yang berbeda. Kamera ini menangkap gambar langit setiap 5 menit. Untuk menentukan kapan melihat aurora yang pas, kita bisa menggunakan aplikasi untuk mengecek KP. Semakin tinggi semakin bagus. Untuk di daerah seperti Abisko ini, KP rendah pun sebenernya memungkinkan sekali untuk melihat aurora. Kita hanya cukup mempertimbangkan faktor cloud coverage.

Pada hari pertama kami hanya menunggu dari dalam kamar sambil belajar menyetting kamera karen. Sayangnya kamera kami hanyalah kamera mirrorless dan tidak ada tripod. Meskipun berada di lokasi yang bagus sekalipun, menangkap aurora yang terus bergerak di malam yang gelap tentu bukan perkara mudah. Tentu saja banyak referensi di internet untuk menangkap aurora, seperti ini https://happyworld.is/northern-lights-photography-settings/

Selama 3 malam di sana, kami hanya meliat aurora di malam ke-2 tepat di malam christmas eve. Tidak banyak hal lain yang dapat dilakukan di Abisko. Apalagi siang yang sangat pendek tanpa matahari. Hanya 4 jam berselang dari sunrise menuju sunset. Sisanya gelap. Karena malam pertama kami tidak kedapatan aurora, keesokan harinya kami bertekad untuk keluar daripada menunggu hasil foto dari live camera. Karena kami cukup yakin meskipun percentage auroranya cukup kecil 14%. Kami keluar pada pukul 23.00. Malam itu juga sangat terang karena ada bulan. Kemudian tiba tiba kabut menyergap. Kami agak pesimis untuk mendapatkan aurora. Setelah berjalan kira-kira 1km menuju danau, kami meunggu aurora sambil menikmati angin danau. Saat sedang asik menari nari biar tidak kedinginan, tiba tiba rombongan traveler cina yang sangat gaduh tiba tiba diam. Kami pun memperhatikan langit. Bulan menghilang, kabut menghilang, dan bintang tampak dengan jelas. Segera kami menyaksikan segaris putih yang terang dari gunung menuju danau yang makin lama makin terang. Kami butuh kamera untuk memastikan apakah itu aurora. Sampai akhirnya garis garis itu mulai sedikit menghijau. Benar sekali, setelah hampir 1.5 jam menunggu di suhu -6C, kami bisa melihat aurora dengan mata kepala kami. Tapi sayangnya, saya tidak memiliki tripod, jadi gambar gambar yang saya ambil blur blur karena tangan saya yang tidak bisa diam. Itulah pentingnya menggunakan tripod. Selang beberapa jam, pada pukul 02.00, kamipun memutuskan kembali ke penginapan karena kaki salah satu teman kami sudah mulai membeku. Harusnya kami kembali lebih cepat, karena dari pintu penginapanpun kami bisa melihat aurora. Kami menghangatkan badan dan akan keluar lagi pada pukul 03.00.

Untuk menunggu aurora yang berjam-jam lamanya, pakaian merupakan hal paling penting dan rempong untuk dipersiapkan. Kami harus memakai longjohn, sweater, jaket yang tahan di suhu sampai -20, syal, kupluk, celana winter, sepatu boot winter dan spray sepatu agar tidak berembun, kaus kaki super tebal dan heatpack di tangan dan kaki. Setiap kali keluar penginapan, kami harus memakai ini semua. Repot bukan? Meskipun sudah memakai atribute lengkappun, saya tetap saja hanya sanggup 3-4 jam di luar ruangan.

Satu yang saya syukuri tinggal di belahan bumi utara adalah bisa menikmati kesempatan melihat aurora ini. Memang sangat jarang sekali scandinavia jadi tujuan wisata dari Indonesia. Salah satu alasannya memang karena sangat mahal.

Total biaya yang saya keluarkan dengan status non student:

  • Tiket PP Stockholm -Abisko: 1982kr (1 tiket kabin & 1 tiket duduk)
  • Penginapan 3 hari : 1500kr

Meskipun berdingin-dingin ria sampai kaki dan tangan hampir membeku, tapi saya sangat bersyukur bisa menyaksikan fenomena alam yang langka dan mahal ini. Semoga kita semua bisa diberi kesempatan melihat keajaiban Allah melalui alamnya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan

Al-Baqarah 164

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s