Tidak Percaya Diri

Semakin luas pergaulan, semakin kenal dengan orang-orang yang pintar di bidangnya, semakin merasa kecil pulalah diri ini. Mungkin bisa dibilang, masa-masa awal sekolah adalah masa dimana kepercayaan diri kita tinggi-tingginya. Mungkin saja, kita adalah sang juara di SD dengan kelas berkapasitas 30 orang. Seiring waktu berjalan, kita mulai melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. Mulai bertemu dengan sang juara-juara dari sekolah asalnya. Tak bisa … Continue reading Tidak Percaya Diri

#4 Kontemplasi

Setelah lulus SMA, cita-cita saya adalah memiliki peternakan ayam. Pun demikian setelah lulus S1, masih mengagungkan cita-cita tersebut. Kenapa? Karena saya harvest moon (gamer?) addicted. Sekarang saya punya cita-cita tambahan, mimpi jadi engineer Google. Mari kita lihat beberapa tahun lagi, manakah yang lebih dahulu terjadi, jadi Ria si juragan ayam, atau Ria si karyawan Google, atau tidak pula keduanya? Continue reading #4 Kontemplasi

#3 Kontemplasi

Sehabis scroll timeline twitter saya, baru teringat kembali dengan kedahsyatan sedekah. 8 tahun yang lalu, hanya dengan bersedekah beberapa ribu perak di pagi hari, Tuhan langsung membalas saya dengan rejeki yang tidak terduga. Siangnya saya mendapatkan telepon bahwa saya mendapatkan beasiswa berupa uang tunai. Tak tanggung-tanggung, waktu itu cukup untuk membeli sebuah laptop HP dengan core i3 buat ngoding pascal. Sudah lama sekali saya tidak … Continue reading #3 Kontemplasi

#2 Kontemplasi

Sampai detik ini saya masih tidak habis pikir dengan orang yang membiarkan chat penting tidak dibaca/dibaca tetapi tidak dibalas bahkan berjam-jam hingga berhari-hari tetapi genggamannya tidak pernah terlepas dari handphone. Apa yang salah dari orang-orang seperti ini? Apakah etikanya memang sudah tidak ada? Menurut saya mengabaikan pertanyaan orang lewat chat itu salah satu ciri ketidaksopanan. Mungkin karena terbiasa bekerja di perusahaan startup yang harus fast … Continue reading #2 Kontemplasi

#1 Kontemplasi

Dulu, waktu kuliah S1 saya memiliki temen sejurusan yang sangat sangat ambisius mengejar ilmu (nilai?). Sangat terlihat jelas sekali. Darinya saya belajar bahwa ambisius adalah shirotal mustaqim yang bisa mengantarkan pada apa yang diinginkan. Boleh dibilang diam diam saya menjadikannya panutan. Selepas lulus, saya tau dia bekerja di perusahaan bagus, kemudian melanjutkan studi di salah satu universitas terbaik dunia, dan mendapatkan jabatan yang bagus setelah … Continue reading #1 Kontemplasi

Pemilu di Swedia itu…

Beruntung. Tak telalu mendengarkan campaign2 pembela kedua calon. Menemukan satu dua orang saja yang mendengarkan menjelekkan salah satu calonpun saya sangat kesel. Apalagi untuk mereka yang seharusnya termasuk kalangan terdidik, mahasiswa menempuh studi master. Lucunya, H-1 pemilu kemaren teman saya malah mempertanyakan tentang deklarasi UAS dan UAH tentang calon presiden mereka di publik. Saya sih biasa aja, tapi komentar teman saya ini justru membuat saya … Continue reading Pemilu di Swedia itu…

2018 in Review

Sebenarnya tulisan ini diperuntukkan untuk diri saya sendiri yang mudah lupa pernah ngalamin hal apa saja dalam hidup. Sebagai catatan bahwa mungkin tahun depan saya bisa hidup lebih berwarna lagi. Adanya ig story dan stok foto ternyata cukup membantu. Januari Mengawali tahun baru dengan menonton marathon film 20 episode yang saya tonton ke 3xnya dari tanggal 31 Desember 2017- 1 Januari 2018. Sampe yang punya … Continue reading 2018 in Review

The Unknown

Habis scrolling twit lama, baru nyadar kalau keinginan untuk membuat tulisan terkait sang pahlawan ini belum kesampaian sejak 1 tahun lamanya. Disclaimer: semua sumber tulisan berdasarkan referensi dan opini pribadi. Apasih isu setahun terakhir Indonesia yang cukup menggelikan? mungkin kasus Setyo Novanto adalah yang paling heboh, penuh drama, dan mungkin akan memalukan diri anda sendiri jika ditanya oleh orang asing. Anehnya, justru kasus inilah yang … Continue reading The Unknown

Financial Freedom Beginner

Sebenarnya sudah lama sejak ingin menuliskan hal ini. Berhubung kemaren baru saja ada teman lama yang tiba-tiba curhat keinginannya untuk mencari uang saja karena merasa belum mencapai yang namanya financial freedom. Akhirnya saya menemukan judul yang tepat untuk tulisan ini. Saya mulai bekerja pada akhir Agustus 2014. Biasanya saya menyisihkan 50%¬† penghasilan saya untuk ditabung karena waktu itu saya sangat skeptis dengan yang namanya saham … Continue reading Financial Freedom Beginner