One Baby Step at a Time

After being self-distancing for nine days, I started to understand myself more. “Working from home is not my thing”. Have tried many things to keep high productivity but it turned out I didn’t do anything. Didn’t make any significant progress with my thesis, which I have to submit by the end of May. It has been two months since I started doing my master thesis. … Continue reading One Baby Step at a Time

Mengeluh

Seperti dejavu dengan kehidupan di tahun 2015, rasa-rasanya, 2 bulan terakhir adalah bulan-bulan paling berat dalam hidup #lebay.¬† Deadline tugas tiada abis. Saat itu saya mengambil 4 mata kuliah yang deadline pengumpulannya cuman berselang seminggu.¬† Mulai dari tugas individu, proyek, report, paper, exam, dan lain-lain. Selain itu, saya juga memiliki dua kesibukan lain buat mencari tambahan uang. Ditambah lagi alergi yang tidak kunjung sembuh sudah … Continue reading Mengeluh

Pulang

Time flies. Tak terasa, 6 bulan lagi Resident Permit saya habis, yang artinya saya harus siap-siap pulang ke Indonesia. Masa-masa menempuh studi di negeri Scandinvia akan berakhir. Rasanya banyak hal yang belum saya lakukan di sini. Sebenarnya boleh dibilang kesempatan untuk meniti karir di Swedia atau melanjutkan PhD di negeri ini terbuka lebar. Pertanyaannya, siapkah menjadi sebatang kara di negara berjarak 10.525 km dari orang … Continue reading Pulang

Tidak Percaya Diri

Semakin luas pergaulan, semakin kenal dengan orang-orang yang pintar di bidangnya, semakin merasa kecil pulalah diri ini. Mungkin bisa dibilang, masa-masa awal sekolah adalah masa dimana kepercayaan diri kita tinggi-tingginya. Mungkin saja, kita adalah sang juara di SD dengan kelas berkapasitas 30 orang. Seiring waktu berjalan, kita mulai melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. Mulai bertemu dengan sang juara-juara dari sekolah asalnya. Tak bisa … Continue reading Tidak Percaya Diri

#4 Kontemplasi

Setelah lulus SMA, cita-cita saya adalah memiliki peternakan ayam. Pun demikian setelah lulus S1, masih mengagungkan cita-cita tersebut. Kenapa? Karena saya harvest moon (gamer?) addicted. Sekarang saya punya cita-cita tambahan, mimpi jadi engineer Google. Mari kita lihat beberapa tahun lagi, manakah yang lebih dahulu terjadi, jadi Ria si juragan ayam, atau Ria si karyawan Google, atau tidak pula keduanya? Continue reading #4 Kontemplasi

#3 Kontemplasi

Sehabis scroll timeline twitter saya, baru teringat kembali dengan kedahsyatan sedekah. 8 tahun yang lalu, hanya dengan bersedekah beberapa ribu perak di pagi hari, Tuhan langsung membalas saya dengan rejeki yang tidak terduga. Siangnya saya mendapatkan telepon bahwa saya mendapatkan beasiswa berupa uang tunai. Tak tanggung-tanggung, waktu itu cukup untuk membeli sebuah laptop HP dengan core i3 buat ngoding pascal. Sudah lama sekali saya tidak … Continue reading #3 Kontemplasi

#2 Kontemplasi

Sampai detik ini saya masih tidak habis pikir dengan orang yang membiarkan chat penting tidak dibaca/dibaca tetapi tidak dibalas bahkan berjam-jam hingga berhari-hari tetapi genggamannya tidak pernah terlepas dari handphone. Apa yang salah dari orang-orang seperti ini? Apakah etikanya memang sudah tidak ada? Menurut saya mengabaikan pertanyaan orang lewat chat itu salah satu ciri ketidaksopanan. Mungkin karena terbiasa bekerja di perusahaan startup yang harus fast … Continue reading #2 Kontemplasi

#1 Kontemplasi

Dulu, waktu kuliah S1 saya memiliki temen sejurusan yang sangat sangat ambisius mengejar ilmu (nilai?). Sangat terlihat jelas sekali. Darinya saya belajar bahwa ambisius adalah shirotal mustaqim yang bisa mengantarkan pada apa yang diinginkan. Boleh dibilang diam diam saya menjadikannya panutan. Selepas lulus, saya tau dia bekerja di perusahaan bagus, kemudian melanjutkan studi di salah satu universitas terbaik dunia, dan mendapatkan jabatan yang bagus setelah … Continue reading #1 Kontemplasi

Pemilu di Swedia itu…

Beruntung. Tak telalu mendengarkan campaign2 pembela kedua calon. Menemukan satu dua orang saja yang mendengarkan menjelekkan salah satu calonpun saya sangat kesel. Apalagi untuk mereka yang seharusnya termasuk kalangan terdidik, mahasiswa menempuh studi master. Lucunya, H-1 pemilu kemaren teman saya malah mempertanyakan tentang deklarasi UAS dan UAH tentang calon presiden mereka di publik. Saya sih biasa aja, tapi komentar teman saya ini justru membuat saya … Continue reading Pemilu di Swedia itu…