Belajar Islam: Shalat Tarawih

Dikarenakan di dalam bulan Ramadhan, pelaksanaan 2 sholat ini adalah sesuatu yang spesial, meskipun sholat witir sebenernya tidak diperkhusukan di bulan puasa saja. Dalam tulisan ini saya akan merangkum pertanyaan-pertanyaan yang saya sering pertanyakan tentang kebenerannya dan mencari tahu bagaimana seharusnya berdasarkan berbagai sumber.

Kenapa sholat Tarawih hanya dilaksanakan di bulan Ramadhan?

Pelaksanaan sholat Tarawih harus dilaksanakan di bulan Ramadhan sebenarnya tidak dijelaskan secara

spesifik, akan tetapi ada hadits yang menyatakan sebagai berikut:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa bangun pada malam bulan Ramadhan karena iman dan mengarapkan perhitungan dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Asal muasal pelaksanaan sholat Tarawih ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW melaksanakan sholat pada malam hari di bulan Ramadhan. Nabi menganjurkan mengerjakannnya, tetapi tidak mewajibkan. Bahkan dalam suatu riwayat Nabi pernah tidak melaksanakannya, agar tidak dianggap sebagai ibadah wajib oleh umat.

Bagaimanakah islam memandang tentang perbedaan rakaat sholat tarawih, yaitu 8 atau 20?

Di Indonesia, jumlah rakaat yang paling umum kita temui adalah 8 atau 20, bahkan di negara lain bisa dijumpai 36 rakaat.

Nabi Muhammad sendiri mengerjakan sholat tarawih 8 rakaat. Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, jumlah rakaat tarawih yang dilakukan adalah 20 rakaat. Hal ini  terus dipakai oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Sehingga sampai sekarang masih banyak kita jumpai yang memakai 20 rakaat.

Menurut Imam Ahmad, bahwa perbedaan rakaat baik 8, 20, atau 36 rakaat sholat Tarawih diperbolehkan.

Bagaimanakah tata cara sholat tarawih yang benar?  4 kali salam atau 2 kali salam? mana yang lebih utama?

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A, bahwa Nabi Muhamaad melaksanakan sholat Tarawih 8 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat.

كان رسول الله  – صلى الله عليه وسلم –  يصلى بالليل إحدى عشرة ركعة بالوتر، يسلم بين كل ركعتين.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at dan sudah termasuk witir dan beliau salam setiap dua raka’at.

Kenapa kita tidak membaca doa iftitah lagi setelah salam ketika memulai rakaat baru/takbiratul ihram pada sholat Tarawih?

Menurut sebuah hadits yang diriwayatkah oleh Muslim, bahwa Nabi

لِ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ فَقَالَ « اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ….

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam, beliau memulai shalatnya dengan membaca doa iftitah, “Allahumma Rabba Jibril wa Mikail wa Israfil…” (HR. Muslim 1847)

Ada suatu riwayat yang menjelaskan bahwa, doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram (takbir pemulaan sholat). Hanya saja, dikarenakan jika tarawih adalah 8 rakaat dan setiap 2 rakaatnya adalah sambungan rakaat sebelumnya, maka tidak perlu membaca iftitah lagi. Takbiratul ihram yang dianggap adalah pada rakaat pertama sholat.

(dirangkum dari berbagai sumber)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s