Running on your own track

Belakangan, saya merasakan banyak sekali perubahan drastis dalam kehidupan orang – orang sekitar saya, yang secara tidak langsung mempengaruhi sedikit banyak bahan renungan saya.

Misalnya, mulai banyak yang menikah dan bahkan sudah banyak yang punya anak. Mungkin kalo dihitung- hitung lagi, sahabat SD, SMP, dan SMA hampir 75% sudah berkeluarga. Bahkan kalo dihitung lagi, teman kuliah sudah banyak yang menikah either itu perempuan atau laki-laki.

Atau banyak juga teman kuliah yang memiliki karir yang sangat gemilang atau bekerja di perusahaan multinasional sehingga hampir tiap bulannya business trip ke europe, disekolahkan oleh perusahaan dan bergaji at least 8 digit.

Atau teman yang memiliki passion membuat sebuah bisnis yang sangat menjanjikan dan kita bisa berspekulasi dia akan menjadi seorang pengusaha yang sukses dalam waktu singkat.

Atau teman yang mengikuti hobi nya, seorang sarjana teknik yang banting setir menjadi fotografer professional.

Atau teman yang sudah mendapatkan gelar Ph.D di salah satu universitas tersohor di dunia.

Iri. Mungkin itu satu kata yang paling cocok jika saya ungkapkan 1 tahun yang lalu. Ya, dulu saya iri dengan orang yang bisa menikahi pasangan yang dicintainya, iri dengan orang yang mendapatkan gaji dan reputasi di perusahaan ternama seantero jagat raya, iri dengan orang yang berani ambil resiko dalam memulai bisnis, iri dengan orang yang menjadikan hobi adalah pekerjaannya. Tapi, apakah dengan iri membuat saya menjadi lebih baik?

Awalnya saya memiliki pemikiran, apabila kita menganggap subject dengan kriteria-kriteria di atas adalah bottom standard kita, maka kita akan lebih totalitas terhadap hal-hal yang ingin kita gapai karena ingin lebih baik dari mereka. Tapi ternyata saya salah, menjadikan orang lain sebagai suatu standar kesuksesan hanya akan membuat kita tidak bahagia. Buat apa kita mengejar sesuatu hal yang belum tentu kita juga suka. Contohnya, belum tentu juga kerja di multinational company yang hampir tiap minggu ada business trip nya saya mampu. Wong, kerja jam 09.00 aja berat, apalagi mengejar flight subuh-subuh seperti mereka. Belum tentu juga bisnis adalah bidang yang cocok dengan saya, karena saya paling tidak bisa berdagang.

Sampai akhirnya saya sadar, bahwa yang harus dikejar itu bukan saya harus lebih baik dari orang sekitar saya, akan tetapi saya harus lebih baik dari saya 1 jam yang lalu, lebih baik dari 1 hari yang lalu, lebih baik dari 1 tahun yang lalu. Tapi, kadang ini berat, apalagi berada di lingkup pertemanan yang acapkali menimbulkan ketidakpercayaan diri dan menjadi demotivasi.

Setiap kali saya merasa demotivasi, saya melarikan diri dengan membaca-baca article self-healing. Setahun belakangan saya selalu rajin membaca topic terkait self development di medium, quora, TED, atau mendengarkan podcast terkait ini hampir setiap hari. Setidaknya artikel ini mampu menaikkan rasa percaya diri saya dan mampu menyadarkan saya bahwa setiap orang itu punya golden time nya masing-masing. Kita di dunia ini sedang berlari memperbaiki diri masing-masing menjadi lebih baik setiap harinya. Tapi, untuk menjadi lebih baik kita tentu harus punya role model, misalnya Nabi Muhammad SAW untuk urusan ibadah atau Elon Musk untuk pengusaan bisnis dan teknologi multibidang.

Jadi, setiap orang punya jalan hidup masing-masing, tapi beberapa hal penting yang harus selalu saya berusaha pedomani: set your life plan (short and long), have role models, always try your best and make the most of it.

Insyaallah, usaha keras tidak akan pernah mengkhianati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s