Kamar-kamar di Perantauan

Tak terasa, sudah hampir 11 tahun pula saya meninggalkan kampung halaman. Sejak pengumuman USM daerah dan dimulainya program Bridging* di bulan Juni 2010, sejak itu pula lah saya tidak tinggal dengan keluarga saya.

Rumah pertama saya adalah asrama puteri itb di kanayakan. Sebagai peserta brdging, kami diwajibkan tinggal di asrama. Kurang lebih selama 6 minggu. Saat itu teman sekamar saya adalah 2 wanita minang FITB tangguh (Lisa dan Nadila) yang dikenalkan oleh teman saya. Setelah program Bridging selesai dan kami semua mendapatkan fakultas masing-masing, kami dibebaskan untuk tetap tinggal di asrama atau keluar. Kedua teman saya ini lebih memilih kosan di daerah cisitu dikarenakan akses transportasi yang lebih mudah dibandingkan di asrama. Sedangkan saya memutuskan tinggal di asrama bersama dua orang teman sekelas saya (Elfida dan Uswa) selama bridging. Saya sangat menyukai tinggal di asrama dikarenakan setiap malam, kami anak TPB bisa belajar bersama. Vibe asrama juga sangat mendorong untuk tak mau ketinggalan belajar, karena semua orang sepertinya rajin. Saat itu ada 2 asrama putri, baru (350rb) dan lama(250rb) yang cuman dibatasi 1 pintu. Jika lebih dari setahun, kami harus pindah ke asrama lama. Meskipun lebih murah, kondisi asrama lama ini agak creepy dan kotor. Oleh karena itu saya dan kebanyakan penghuni asrama pindah.

Di awal tahun 2011, saya pindah ke kontrakan di Cisitu lama yang berada beberama blok dari asrama putra bersama 7 orang lainnya. Kontrakan kosongan ini memang murah, hanya 2 jt per tahun per orang. Tapi, tentu saja ada minusnya. Air yang terbatas. Tak jarang kami harus berlomba bangun paling pagi untuk mandi duluan sebelum stock air habis, Tak jarang juga saya tiap pulang kuliah numpang mandi ke kosannya Puti. Kamipun tidak menyelesaikan 1 tahun yang sudah kami bayarkan.

Ada seorang teman kami yang sebenarnya ingin pindah duluan karena sudah tak betah dengan kondisi air di kontrakan. Tak jarang juga ada drama di kontrakan. Dia sudah menemukan kosan. Entah kenapa saat itu 5 dari 8 orang kami jadinya pindah ke kosan itu di daerah Cisitu Indah Baru. Saya juga menyukai kosan ini karena 8 orang penghuni kosan ini adalah teman satu fakultas saya sendiri (Widya, Elfida, Amy, Aul, Pw, Ajul, Hesti, dan saya). Di sinilah saya tinggal sampai lulus. Kamar sayapun dilanjutkan oleh sepupu saya yang melanjutkan S3 di ITB. Fun fact, di Swedia saya bertemu dengan senior elektro yang dulu juga ngekos di sana, dan sekarang kami flatmate.

Setelah pindah dari Bandung dan bekerja di Batam. Saya berpindah2 selama 3 kali di Batam. Kosan pertama saya, adalah kosan yang dibayarkan oleh kantor selama masa probation. Waktu itu harganya sangat mahal untuk ukuran freshgrad di 2014, yaitu 2 jt. Selanjutnya, saya mengontrak rumah dengan 2 org teman sekantor saya. Saya sudah membayarkan uang kontrakan buat 6 bulan, hanya saja saya cuman sanggup 2 bulan, dikarenakan akses transportasi yang terbatas. Apalagi saya hampir tiap malam harus lembur. Di 6 bulan terakhir bekerja di Batam, saya pindah lagi sekosan dengan teman kantor saya. Saya benar-benar tidak membeli apapun dikarenakan memang sudah planning resign. Kosan kosongan. Saya hanya punya kasur. Hidup tanpa lemari dan meja. Benar-benar hidup frugal. Waktu itu saya planning resign dalam 3 bulan, tapi jadinya cukup lama karena ternyata mendapatkan pekerjaan di Jakarta dengan kondisi berada di Batam cukup sulit.

Saya termasuk orang yang beruntung mencari tempat tinggal. Saya yakini itu sampai sekarang hehe. Saya resign Jumat di Batam dan Senin harus mulai kerja di Jakarta. Sabtu dan Minggu adalah waktu mencari kosan. Thanks to teman saya, Widya dan Felix, akhirnya saya bisa menemukan kosan di hari Sabtu. Dan di hari Minggu saya membawa barang-barang dari rumah Widya ke kosan saya di Jakarta. Kosan ini sangat strategis karena dekat dengan tempat bekerja dan juga berada di belakang kampus Perbanas. Jadinya tidak sulit mencari makanan. Saya tinggal disini sampai akhirnya saya mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan saya probation di Jogja selama 3 bulan. Mau tak mau saya harus meninggalkan kamar ini. Beruntungnya, adik kelas saya, Elektro 2011, baru saja mendapatkan pekerja di Jakarta dan sedang mencari kosan. Oleh karena itu saya mengalihkan kamar saya ke dia termasuk semua barang-barang saya.

Kalo dipikir, sampai sekarangpun, saya adalah orang yang switch pekerjaan tanpa waktu libur. Resign Junat dan Seninnya mulai lagi di tempat baru. Beruntungnya di Jogja saya mendapatkan kosan dari kantor yang berjarak beberapa meter dari kosan di lokasi yang strategis di Jalan Kaliurang. Setelah lulus probation, saya harus kembali ke Jakarta. Disinilah saya belum mencari tempat tinggal. Di 2 minggu pertama saya masih tinggal bersama kakak saya di Bogor. Baru kali itu saya merasakan commute hampir 4 jam sehari. Sangat melelahkan. Saya harus bangun lebih pagi karena saya nebeng kakak saya yang jam kerjanya dimulai jam stgh 8. Dua minggu yang berat. Saya memutuskan mencari kosan dan akhirnya ngekos di Bukit Duri sampai akhirnya adik kelas saya yang menggantikan kosan pertama saya di Jakarta resign dan ingin meninggalkan kosan. Sayapun kembali ke kosan itu.

Kosan di kuningan bukanlah kosan terakhir saya di Jakarta. Saat adik saya baru lulus, dia ingin tinggal bersama saya. Jadilah saya harus pindah ke kosan buat dua orang. Kami pindah ke Utan Kayu. Meskipun akses makanan sangat terbatas, tapi cukup dekat dengan kantor yang berada di Cawang dan adik saya bisa masak! Ketika adik saya melanjutkan s2 ke Bandung dan saya pindah kerja ke Kemang, sayapun pindah kosan lagi! Mencari kosan ini sangat sulit apalagi saya cuman punya waktu sabtu dan minggu. Jarak antar Utan Kayu dan daerah Kemang cukup jauh untuk bolak balik survey kosan. Akhirnya saya dapat juga kosan di hari Sabtu dimana hari Seninnya saya mulai bekerja di kantor baru. Seperti dejavu ya. Saya tinggal disini sampai sebelum meninggalkan Indonesia.

Karena mengekos, saya jarang sekali pulang. Paling hanya 1x setahun dan itupun palingan 1 minggu. Kamar di rumah jadi begitu asing.

Jadi berapakah jumlah kosan yang saya tempati selama tinggal di Bandung? dan selama tinggal di Jakarta?

bersambung…

Bridging adalah program orientasi selama 6 minggu untuk lulusan USM daerah yang belum mendapatkan fakultas. Setelah Briding, kami harus mengikuti USM lagi untuk mendapatkan Fakultas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s